Saat Hidup tidak lagi bersahabat dengan kita... Tetap lah "pegang erat Tangan Tuhan" Jangan pernah kau berpaling dari NYA, sebab TUHAN lah sumber pertolongan kita kemarin, hari ini , besok dan untuk selama-lama nya...
Tampilkan postingan dengan label tanadi santoso. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tanadi santoso. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 September 2011

Tanadi Santoso Quote

Oom Tan...
Aku quote ya wise word nya yang pendek2...
Mengapa kita selalu menunda sesuatu yang seharusnya sudah kita laksanakan sejak dulu?
Bukankah hari ini adalah "kapan2" yang anda janjikan dulu? Bukankah sekarang sudah sampai pada batas waktu untuk pekerjaan penting yang anda tunda dulu? Marilah kita mulai.
Ada yang tidak makan sapi, ada yang tidak makan babi, ada yang tidak makan burung dara. Ada yang mau juga makan ular, anjing, buaya, atau kelelawar. Mengapa manusia berbeda dalam membolehkan diri memakan sesuatu dan tidak memakan sesuatu?
Kita selalu merasa: "Rumput tetangga lebih hijau" (apapun kata iklan!).
Padahal tetangga melihat kebun kita: "Kebun mereka lebih indah". Salam bersyukur, bagaimanapun kebun dan rumput kita, itulah milik kita.
Sumber semangat datang dari dalam diri kita sendiri, bukan dari teriakan yel yel "Bisa!" Kita menjadi penuh semangat ketika kita menentukan arah kita sendiri, dan menjadi semakin ahli mengerjakan pekerjaan kita, dan menemukan arti dari pekerjaan kita, yang lebih dari sekedar mendapatkan sesuap nasi.
Kata "Memaksa Diri Menyelesaikan" sesuatu, menimbulkan ketegangan dan ketidak nyamanan ketika melakukannya, ada tekanan untuk menuntaskan. Cobalah dengan kana "Memilih Untuk Memulai" apapun hasilnya, tanpa tekanan. Pekerjaan akan bisa selesai "dengan sendirinya" kalau memang sudah waktunya. Kata kunci: Memilih, Memulai, Lakukan. Semoga ada semangat baru yang mengalir.
Mengetahui - Melakukan - Menjadi: (Know, Do, Be), adalah tidak fase yang berbeda. Kita MENGETAHUI memuji itu baik (tapi tidak melakukan), Kita MELAKUKAN dengan sadar untuk memuji sahabat (kesadaran perlu menyenangkan teman), Kita MENJADI orang yang tanpa sadar selalu memuji kelebihan orang lain dengan tulus (ini tentu yang terbaik, terasakan kerendahan hati dan ketulusannya). Salam "mejadi".
MOVE ON: Dalam kehidupan, sering ada hal yang menahan kita, membuat kita terhenti dan berputar-putar pada sesuatu yang sudah basi dan tidak bisa di-apa-apa-kan lagi. Sudah waktunya kita tinggalkan, kita bangkit, dan bergerak maju lagi.
Bila anda mendapat uang 10 milyard rupiah, dan harus anda habiskan dalam seminggu, karena pada akhir minggu semua yang tersisa akan hilang dengan sendirinya, begitupun degan "barang" yang anda beli dengan urang itu akan ikut "hilang" pada akhir minggu. Apa yang akan anda lakukan dengan uang itu?
Sebenarnya otak kita adalah otak yang malas: Kita lebih sering mengikuti kebiasaan kita, atau meniru orang lain, daripada harus berpikir secara kritis. Sehari hari kita berprilaku dengan "auto-pilot mode" saja. Jadi sangat berguna kalau kita punya kebiasaan baik yang tanpa sadar kita lakukan bila sedang dalam auto-pilot mode kita, apalagi kalau lagi senggang, seperti: membaca buku, menelpon pelanggan kita, memikirkan promosi produk kita, mencari peluang bisnis baru, dan seterusnya.
Membaca buku memberikan kedalaman pada materi yang dipelajari, dengan adanya amazon.com, dan menjamurnya toko buku, alternatip pilihan menjadi banyak sekali. Berapa banyak buku yang anda baca dalam setahun terakhir, buku apa saja yang paling anda sukai?... Minggu sangat nikmat dipakai membaca buku, ditemani kopi, dan camilan. Salam Minggu.
Ada seorang gila yang mengerjar bayang bayang nya sendiri, di bawah terik matahari. Semakin cepat dia lari mengejar, semakin cepat pula bayang bayang nya lari menjauh. Dan dia tidak juga berhenti mengejar, terus, bahkan dalam kelelahan dia terus tak berhenti, lari mengejar, terus, lari lagi dan lagi. Sampai akhirnya dia berhenti, mati kelelahan.
Orang sering bilang, jaman dulu lebih enak, apakah benar? Apakah enak hidup tanpa internet, tanpa Facebook, tanpa handphone? Lebih kuno lagi: Tidak ada microwave, tidak ada kulkas, tidak ada listrik. Lebih kuno kuno lagi: tidak ada kamar mandi dan sanitasi. Belum ada mobil. Kena wabah Flu saja yang mati puluhan ribu orang. Bukankah jaman ini jaman terbaik yang pernah ada, walau banyak juga kekurangannya?
Semalam di Bulgary Hotel limabelas juta, beli sepeda motor juga lima belas juta. Uang kuliah di MIT setahun 350 juta, semua materi gratis bisa di donload di websitenya oleh siapa saja. Nasi bungkus makan siang 8.000 rupiah, teh segelas di hotel bintang lima 50.000 rupiah. Microsoft Office Software harganya 4 juta rupiah di Amerika, di Indonesia “gratis” semua. Variasi harga adalah realitas baru. -----> itulah hebat nya orang Indonesia, oom 
Hal2 yang berharga dalam kehidupan ini kebanyakan gratis: Udara yang kita hirup, pemandangan senja yang sangat mentakjubkan, kesehatan tubuh, persahabatan sejati, dan senyum tawa orang2 disekeliling kita.
Marilah membebaskan diri dari segala kukungan, mencoba menjalani kehidupan dengan kejernihan, dan berjuang sesuai dengan suara hati. Kita adalah orang yang Merdeka. Salam Merdeka!
The power of Story: Menurut para sejarahwan dan periset, cerita tentang Newton melihat apel jatuh, dan terpikir tentang gaya gravitasi, sama tidak pastinya dengan cerita Hawa menawarkan apel pada Adam. Tetapi itulah yang paling diingat orang ketika ditanya "Apa yang anda tahu tentang Newton?" ~ itulah kekuatan sebuah cerita, menempel di otak kita dan bersarang disana selamanya.
Dalam menghapi stress: Tanyakan kembali dengan pertanyaan yang lebih penting: Apakah ini akhir hidup anda bila anda gagal? Apakah yang anda pentingkan dalam hidup ini? Lima tahun dari sekarang, apakah hal ini masih sepenting ini? Siapa sebenarnya yang membutuhkan ini, apakah benar segenting ini persoalannya? Pertanyaan yang tepat akan membawa anda pada sudut hati yang tepat pula. (M3: Balancing Stress)
Teman2, mohon masukannya untuk website saya yang baru: www.tanadisantoso.com/progress, website ini akan menggantikan www.tanadisantoso.com yang sudah cukup lama tidak diubah wajahnya. Masukan dapat berupa komen, atau email ke tanadisantoso@yahoo.com. Terimakasih banyak :). Salam.
 

Penundaan

Procrastination

Sudah lama sekali saya ingin menata kembali meja kerja dan ruang kantor saya; Sudah lama sekali Amir ingin mengambil kursus keuangan; Sudah lama sekali Joko ingin belajar Photoshop; Sudah lama sekali Lina ingin menata kembali taman belakang rumah. Semuanya tertunda, seminggu, sebulan, setahun atau lebih. Mengapa kita menunda sesuatu yang seharusnya sudah kita lakukan sejak dulu? Kebiasaan ini menular kebagian kerja juga, yang sering mensabotasi kesuksesan kita.

Kita sering punya catatan panjang apa yang harus dilakukan (tapi semua tidak selesai2 juga). Frustasi, tidak fokus kerja, tidak dapat mengambil keputusan, keyakinan yang rendah akan diri sendiri. Semua ini karena kebiasaan kita menunda. Penundaan, mengapa dan bagaimana mengatasinya?

Biasanya yang dituduhkan sebagai alasan penundaan adalah “kemalasan”, atau “tidak punya waktu”, dua kambing hitam yang sebenarnya bukan alasan sesungguhnya. Alasan penundaan, biasanya adalah karena salah satu dari 3 varian alasan: 1. Perasaan tidak mampu mengatasi keseluruhan pekerjaan (overwhelm); 2. Ketakutan akan kegagalan.; dan, 3. Ketakutan kita tidak mampu menyelesaikan dengan baik atau sempurna.

Penyembuhan kebiasaan ‘Penundaan”, haruslah secara menyeluruh. Diawali dengan kita coba catat dalam 3 hari sejak jpagi sampai malam: Apa saja aktifitas kita dalam bekerja? Apakah kita sudah “produktip”? Bila terpikir akan melakukan sesuatu dan kita menundanya, catat: apa yang seharusnya kita lakukan, dan kenapa kita menunda nya?

Obat paling mujarab adalah perubahan mindset kita. Dengarkan dan ubahlah cara kita berpikir dan berbicara dengan diri kita sendiri, internal dialog kita:
1. Jangan gunakan: saya SEHARUSNYA melakukan…., tetapi: Saya MEMILIH untuk melakukan…..
2. Jangan: Saya harus SELESAIKAN pekerjaan ini…, tetapi: Kapan saya bisa MULAI melakukannya?
3. Jangan: Pekerjaan besar ini harus SELESAI…, tetapi: Saya mengambil satu langkah AWAL.
4. Jangan: Kalau saya melakukannya, maka harus SEMPURNA…., tetapi: Kita MANUSIAWI, asal kita sudah melakukan yang terbaik yang kita bisa.
5. Jangan: Bekerja seharusnya TIDAK BERMAIN…, tetapi: BERMAIN justru MENUNJANG produktifitas.

Kelima pola pikir diatas akan mampu membuat kita lebih rela dan mau, untuk memulai sesuatu tanpa adanya perasaan tertekan. Penting sekali untuk juga membuat kita merasa “tidak beresiko” untuk memulai sesuatu. Kita semua tidak suka resiko, dan tidak akan mau melakukan sesuatu yang beresiko, baik resiko gagal, malu, kurang sempurna, atau apapun. Ini membuat kita menunda pelaksanaan hal itu.

Obat mujarab lainnya adalah: Lalukan “30 menit yang ajaib”.  Luangkan waktu 30 menit saja untuk mengerjakan satu hal yang sudah lama anda tunda itu. Kita berjanji hanya 30 menit, tanpa interupsi, dan kita akan beristirahat, atau bermain, setelah itu. Tanpa kita skedul kita bisa saja melompat dan mengerjakan “project”  tertentu untuk 30 menit. Fokus pada kata ‘MULAI” dan bukan harus selesai dengan sempurna. Sehari kita bisa saja melakukan 3 atau 4 hal “setengah jam-an” ini yang akan menjadi “booster” sukses kita.

Penundaan, sudah mensabotasi banyak kesempatan kita untuk sukses. Sudah waktunya kita bangkit dan menhadapinya dengan penuh semangat. Apa hal terburuk yang akan terjadi kalau kita melakukan hal itu? Apa kah kita mampu menerima akibatnya kalau  gagal? Adalah alternatip lain untuk mencapai tujuan kita? Dapatkah kita kurangi kemungkinan gagal kita? Pikirkan kekawatiran kita, dan kalau jawaban dari pertanyaan2 kekuatiran kita dapat kita atasi, maka MULAILAH mengerjakannya.

Selamat memulai, salam sukses.


*Tanadi Santoso, Surabaya, 4 September 2011.

Seminar Tanadi Santoso berikut: Jakarta, Selasa, 12 Oktober 2011: Family Business and Succession, bersama Joger dan Armand. Kontak Pas FM Jakarta 021-6339160, untuk tiket dan keterangan lainnya
 
oleh Tanadi Santoso Dua pada 04 September 2011 jam 14:54

Pleasure is Deep

 
Essentialism

Baju bekas bintang filem terkenal laku 50 juta rupiah, walau sebenarnya barang itu adalah sama saja sebuah baju. Golf Stick bekas John F. Kennedy laku 600 juta, nilai barunya tidak lebih dari 10 juta.

Manusia adalah mahluk yang menganut “Essensialism”, kita bukan hanya tertarik pada “apa yang terasa, terdengar, atau terlihat” oleh kelima indera kita saja, tetapi juga apa makna yang terkandung dibelakang hal itu.

Sepatu Nike “Back to The Future” laku di lelang 300 juta rupiah, karena “Story” yang ada dibelakangnya. Bagaimana hubungan kita dengan “makna” yang diberikan oleh cerita itu menentukan berapa “harga” yang layak untuk sebuah barang.

Lukisan, patung, karya seni, semuanya tergantung pada nilai dari “arti” yang terkandung didalamnya, sehingga harga bukan lagi karena “barang” itu. Nilai sejarah, kekuatan “brand” penciptanya, dan segala esensi yang terkandung pada barang itulah yang menciptakan harga.

Ada yang tidak makan daging sapi, ada yang tidak makan daging babi, ada yang tidak makan burung dara, ada yang tidak makan hewan sama sekali. Apa yang kita makanpun memberikan “perasaan” yang beda dan sesuai dengan “imaginasi” kita. Coba berikan daging kambing misalkan, katakan “ini sapi” pada saat seorang Hindu yang sedang memakannya, ini membuat dia memuntahkannya.

Kalau anda melihat seorang wanita yang sangat cantik seksi (atau tampan gagah, buat para wanita), dan anda sangat tertarik secara sensual padanya, masihkah anda akan tertarik kalau tahu bahwa sebenarnya dia dulu berjenis kelamin lain dan telah melakukan operasi? Atau bagaimana seandainya dia dulu sebenarnya adalah nenek2 berumur 90 tahun yang dioperasi ganti kulit? Maka langsunglah hilang semua selera yang ada. Lalu bagaimana seandainya itu hanya cerita bohong saja, tatapi kita benar2 menganggap itu benar,  apakah kita akan tetap jijik?

Sebuah barang, sebuah kejadian, sebuah “kebahagiaan” punya “kedalaman” yang penuh dengan esensi yang tidak berupa fisik saja. Kita terbentuk pada esensi2 yang ada dalam kehidupan kita.

Kita berbahagia ketika berhasil menyelamatkan orang kena gempa, walau kita rugi harta benda, dan lelah kotor capek luar biasa. Kita berbahagia bisa menyenangkan orang tua, walau harus mengirit keuangan mengikat pinggang selama setahun.

Nilai sesuatu, baik barang ataupun kebahagiaan, terbentuk oleh sesuatu yang lebih dalam dari sekedar apa yang tampak dan apa yang rasional saja. Pleasure is deep.


*Tanadi Santoso. Surabaya, 11 September 2011

M3, Monday Morning Memo, adalah catatan saya untuk teman2 di Facebook seminggu sekali. Selamat menikmati, dan silahkan share. Facebook ini telah penuh, bila akan add, silahkan pada www.facebook.com/tanadisantoso4. Salam facebook.
 
oleh Tanadi Santoso Dua pada 11 September 2011 jam 7:19

Kamis, 25 Agustus 2011

Feedback

Feedback Bagaimana bila anda bermain bowling, tetapi tidak dihitung score-nya? Bagaimana pula bila anda bermain bowling, tetapi ditutupi kain depan pin sehingga tidak terlihat tapi bola masih bisa lewat? Anda hanya mendengar suara pin yang berjatuhan tanpa tahu berapa yang jatuh, tanpa diberi nilai, dan diminta terus bermain. Tentu permainan itu akan menjemukan dan tidak membuat anda menjadi pemain bowling yang baik.

Kita tertawa mendengar cerita itu, tetapi dalam kehidupan kita berbisnis, sering kita melakukannya. Kita meminta anak buah mengerjakan sesuatu hal, tanpa memberi feedback. Kita hanya menyuruh mereka melempar bola, kadang terdengar pin berjatuhan, tapi berapa yang jatuh, bagaimana score-nya, tidak kita beritahukan sama sekali.

Sales menjadi menantang, dan mudah dipahami keberhasilan atau kegagalannya, karena kita tahu “score” kita, baik dibandingkan target, ataupun dibandingkan orang lain, atau perusahaan lain. Tidak semua pekerjaan mudah diberi “score”. Penerima telpon, tukang masak, penjaga toko, customer service, supervisor, manager, sampai direktur. Kadang bisa kita tahu nilai kita dengan mudah, kadang tidak.

Sebuah “performance review” sering hanya setahun sekali, dan kita juga tidak jelas mengapa mendapat nilai “cukup” atau “baik”. Bahkan karyawan terkejut ketika dikeluarkan karena dianggap “kurang kompeten”, padahal selama ini dia merasa telah melakukan pekerjaan dengan baik, dan menganggap atasannya puas dengan pekerjaannya.

Pemberian umpan balik, adalah sebuah keharusan buat semua atasan, untuk membuat bawahannya tahu berapa nilai pekerjaan yang telah dia lakukan, sangat baik, cukup, ataukah sangat buruk. Sebaiknya ditambahkan pula, apa yang telah salah dilakukan, dan bagaimana memperbaikinya, apa pula yang telah sangat baik, sehingga dapat dipertahankan bahkan dibuat lebih baik lagi.

Pemberian feed back harus dilakukan segera, setelah kejadian terjadi, dengan memberi detail rincian tentang apa yang kurang, apa yang baik, dan bagaimana untuk menjadi lebih baik pada masa mendatang.

Demikian pula dalam kehidupan kehidupan sehari hari, feedback menunjukkan arah yang diinginkan, memberi tahu apa yang jangan apa yang harus, mendorong orang melakukan yang benar dan sesuai dengan arah sukses. Selamat menikmati main bowling, dengan score yang terlihat jelas dan mudah dimengerti.

*Tanadi Santoso, Surabaya, 3 July 2011.

Café Codet

Diujung sebuah jalan antah berantah, dimana gagak dengan angkuhnya menatap awan, dimana matahari merendamkan diri kedalam batas gunung, ada sebuah kedai unik yang hanya membolehkan orang dengan bekas luka untuk masuk kedalamnya. Café Codet adalah tempat minum orang2 yang pernah “terluka”.

Penjaganya seorang kekar gemuk bertatoo dengan luka bakar pada wajahnya, menolaki orang2 “utuh” yang mau masuk. Ketika dengan ragu2 kutunjukkan bekas jaitan panjang diperutku, dia mengangguk dan diijinkanlah aku masuk. Dengan sedikit tidak nyaman aku awasi orang2 disana: Ada lelaki bertangan satu, wanita tua gundul dengan bekas jaitan operasi otaknya, dan anak separuh baya yang kedua kakinya telah diganti kayu. Seramnya ruangan, membuat codet besar memanjang dari mata kebibir dimuka bartender-pun terasa normal.

Kupilih duduk disamping wanita setengah baya yang kelihatan utuh. Ketika bir datang, basa basi kusapa dia, sambil bertanya: Bagaimana lukamu? Dengan senyum pahit dibukanya dua kancing blusnya dan ditunjukkan bekas luka jahitan gelap pada tempat dimana dulunya berada payudara. Airmukaku berubah, dan dia tertawa sambil menenggak habis sisa minumannya.

Sore itu, pelahan aku mulai melihat kehidupan dengan kaca mata yang berbeda. Ah, hidup ternyata penuh luka, pikirku. Betapa banyaknya kegetiran yang telah melanda mereka. Dan ketika aku keluar dari Café Codet, kuusap pelan2 bekas lukaku yang menyanyikan lagu syukur.

** Luka adalah bagian dari kehidupan, bekas sisa kepahitan yang membekas. Setiap orang memilikinya, sebagian adalah bekas lama, sebagian adalah bekas baru, bahkan mungkin sekarang luka itu masih menganga lebar bernanah. Luka membawa kepahitan, baik fisik ataupun jiwa. Melalui kepahitan kita belajar menjadi lebih bersyukur dan tabah dalam menjalani perjalanan kehidupan.

Kepahitan setidaknya mengajarkan kita empat hal, kata pendeta Tibet: kearifan, ketabahan, kasih sayang, dan rasa hormat pada kenyataan.

Selamat menikmati codet anda.

*Tanadi Santoso, Surabaya, 10 July 2011.

*) “The four benefits of suffering: wisdom, resilience, compassion, and a deep respect for reality.” ~Tibetian Monk Khenchen Konchog Gyaltshen Rinpoche.

Kehidupan

Kehidupan adalah sebuah perjalanan, yang ditaburi mimpi, diisi keberanian, dan dinyatakan dalam tindakan. Kehidupan akan berjalan, dengan atau tanpa kehadiran kita, dengan atau tanpa antusiasme kita, dengan kemurungan kita ataupun keceriaan kita.

Kepahitan adalah bagian dari berkah, yang mengajari kita untuk memahami kemanisan. Dan membuat kita menjadi manusia penuh syukur.

Tidak ada penyesalan, karena kita telah memilah dan memilih tindakan kita. Kita telah salah, dan kita telah benar, kita bayar dengan jiwa dan raga kita. Kita jalani kehidupan dengan kesadaran, dan tanpa penyesalan.

Tidaklah dibutuhkan permintaan maaf, bilamana yang telah kita lakukan adalah yang terbaik. Sukses dan kegagalan hanyalah sebuah nilai kecil, yang tidak pasti adahah hak kita. Kita hanya memiliki tugas melakukan yang terbaik saja, hasilnya kembali kita serahkan pada alam.

Kita menjalani kehidupan dari lahir, hingga wafat. Kita menjalani hari, hanyalah dari bangun, hingga tertidur nanti. Sehari adalah segalanya, kita hidup dalam dan untuk hari ini. Satu hari dalam satu saat, kita kerjakan dan hidup dengan sebaik baiknya. Penderitaan yang bagaimanapun, sukacita yang betapa besarpun saat ini, akan berakhir ketika tidur nanti, dan esok adalah hari baru yang lahir kembali dan memiliki takdirnya sendiri.

Cinta adalah segalanya, yang melahirkan kita, yang menumbuhkan kita, dan yang membentuk kehidupan kita. Cinta menciptakan sukses dan melahirkan kebahagiaan. Cinta adalah urat nadi kehidupan kita yang mendentangkan jantung kita untuk terus kuat mengaliri kehidupan ini.

Kehidupan adalah air yang mengalir, dari sumber gunung, mengalir pada bukit dan lembah, menjadi air terjun dan sungai yang terus mengalir menuju lautan lepas, dalam takdir dan berkahnya sendiri.
Marilah, dengan syukur kita meresapi arti kehidupan.


*Tanadi Santoso. Jakarta, 18 July 2011.

Peti Penting

Pada jaman perang, seorang jendral yang menyerbu daerah lawan, kalah perang, memerintahkan sekelompok tentaranya untuk membawa sebuah peti terkunci kembali ke markas. Kata sang jendral ini adalah peti yang sangat penting sekali, dan harus sampai di markas dengan aman. Dengan segala susah payah sekelompok tentara ini mempertahankan dan berusaha keras untuk membawa peti ini kembali. Kepahitan apapun dijalani, kesulitan apapun dihadapi. Sampai akhirnya berhasil kembali ke markas. Ketika peti dibuka ternyata isinya hanya batu2an saja, dengan secarik catatan: “Kalian sekarang sudah selamat sampai markas.”

Sekelompok orang ini tidak akan bisa selamat pulang kalau saja tidak mempunyai tujuan yang kokoh, tugas suci yang diembankan, dan kemauan keras untuk berhasil. Peti ini hanyalah sebuah alat sang jendral untuk membuat orang2 ini mau berupaya dan berhati hati di tempat musuh, untuk dapat pulang dengan selamat. Tanpa peti ini kemungkinan besar semuanya telah tertangkap atau terbunuh diarea musuh.


Kekuatan sebuah “tujuan” sangatlah hebat dalam membuat kita mau melakukan yang terbaik untuk mencapainya. Bila tekad sudah bulat, kita akan berusaha maksimal, mampu menahan kepahitan, selalu akan berinovasi, dan rela melakukan yang terberat untuk menjangkaunya. Harapan memberikan energi positip yang besar untuk mendorong kita bersemangat dalam menjalani kehidupan.

Salam semangat.

*Tanadi Santoso, Surabaya, 24 July 2011

Teh

Seorang murid bertanya pada sang Suru Zen: “Kenapa sulit benar memahami pelajaran Bapak?” Sang Guru tidak menjawab muridnya, malah mengambil cangkir teh kosong yang ada tutupnya, dan menuangkan teh kecangkir. Tehpun bertumpahan kesamping, sang Guru berkata: “Muridku, kalau kau tutup pintu hatimu, bagaimana ilmu itu bisa masuk kedalam jiwamu?”

Banyak dari kita mau belajar sesuatu, berkeinginan menjadi manajer yang baik, mau melakukan inovasi, ataupun perbaikan perusahaan, tetapi sulit berhasil. Hal ini sering karena kita tidak mau membuka pintu hati kita, tidak menginjinkan teh itu masuk dalam cangkir kita. Keangkuhan dan sudut pandang negatip sering membuat kita menutup rapat pintu hati belajar kita.

Kita meminta nasihat orang, kita bejalar dari kuliah, belajar dari buku, dari sahabat yang sukses, tetapi sering kita tidak mampu menyerapnya, mungkin karena kita tidak benar2 membuka hati kita. Sudah waktunya kita membuka tutup cangkir kita dan mulai menerima dengan semangat pembelajar yang sejati.


*Tanadi Santoso, Surabaya 26 July 2011

Authentic Happiness.

Mana yang lebih membahagiakan: 1: Tidur di hotel bintang lima, nonton show, makan enak; atau 2: bekerja keras mati2an menolong korban bencana alam, tidur di tenda, makanan tidak bersih banyak lalat, tapi berhasil menyelamatkan orang dari reruntuhan gempa bumi.

Pertanyaan diatas mengundang banyak jawaban menarik di Facebook saya. Ujung dari semua pencarian dalam hidup adalah kebahagiaan. Happiness, atau kebahagiaan, mempunyai banyak bentuk. Martin Seligman, memberikan gambaran akan 3 bentuk happiness.

The Pleasant Life, Kehidupan yang nyaman, adalah kebahagiaan yang didapat karena kenikmatan kelima indera kita. Makan enak, baju bagus, ranjang yang enak, dengar symphony, pijat spa, nonton bioskop, hotel bintang lima, semua ini memberikan kenikmatan "indera" kita.

The Good Life, Kehidupan yang baik, adalah kebahagiaan yang didapat karena hal2 yang kita kerjakan menyenangkan. Kerja yang kita sukai, membuat kita lupa waktu, senang dalam menyelesaikannya. Tugas selesai sesuai jadwal, dihormati para bawahan, dan dipuji atasan, dan semua selesai dengan sangat baik dan menyenangkan. Walau hidup tidak mewah dan jabatan bukan tinggi, tapi hidup membahagiakan.

The Meaningful Life, Kehidupan yang berarti, adalah kenikmatan karena kita mampu mengerjakan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Kita bisa menolong orang yang kena bencana, kita memandang puas pada murid kita yang jadi sukses, kita bangga dengan anak kita yang mampu menjadi "orang", kita bangga dengan kesebelasan sepak bola kesukaan kita. Kita menemukan arti dari spiritual perjalanan hidup ini.

Hal yang termudah untuk mendapatakan kebahagiaan ketika kita "sengsara" adalah dengan memakai The Pleasant Life: makan enak, beli baju mahal dan seterusnya. Tetapi ini tidak tahan lama, dan membuat kita "ketagihan" dengan tingkat kepuasan yang merendah setiap saat melakukannya lagi. (istilah teknisnya: Diminishing Return).

Keseimbangan dalam memilih apa yang harus kita lakukan untuk menjadi bahagia, adalah kuncinya. Kita menikmatkan diri kita, tapi juga mencoba menikmati apa yang kita lakukan, dan mencari makna hidup dalam sebagian dari kehidupan kita.

Setiap manusia selalu mengalami ketiga hal diatas, bagaimana kita menyusun prioritas kita jadi penting, dimulai dari makna, ke aktifitas yang baik, baru memberikan kenikmatan indera. Tujuan akhir kehidupan adalah kebahagiaan, dari manapun datangnya bahagia itu.

Salam Bahagia.

*Tanadi Santoso, Surabaya 1 Agustus 2011

The Good Stress

Selama ini kita cenderung menghindari stress. Kita tidak pernah mengira bahwa stress ternyata bisa jadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri kita. Kita menganggap stress sebagai sesuatu yang salah dan ‘harus disembuhkan’. Dan tidak banyak dari kita yang menyadari bahwa sebenarnya dalam kehidupan kita, untuk menjadi lebih bahagia, kita perlu mengalami stress—dalam jumlah dan takaran yang wajar.
Sebenarnya, ada dua jenis stress di dunia. Jenis pertama adalah stress negatif atau distress. Ini adalah jenis stress yang kita tahu selama ini. Jenis stress yang kita takuti karena sifatnya cenderung destruktif. Namun, ada pula jenis stress yang lain, disebut dengan eustress atau euphoric stress. Eustress merupakan jenis stress yang baik untuk meningkatkan performa kita dan membuat kita lebih bahagia.

Eustress terjadi saat kita memiliki target-target yang harus kita capai dalam hidup, sesuatu yang ingin kita kejar. Eustress memaksa diri kita untuk bekerja, memotivasi kita untuk melakukan sesuatu yang lebih untuk menghasilkan pencapaian yang maksimal. Eustress terjadi saat kita dihadapkan pada sebuah tujuan, kita mengalami stress, tapi kita terpacu untuk mengerahkan usaha maksimal untuk meraih tujuan tersebut, selama kita tahu dan yakin bahwa tujuan itu masih berada dalam jangkauan kapasitas kita.

Zona 1- The Chill Zone
Orang-orang dalam zona ini pada dasarnya tidak merasakan stress sama sekali. Mereka menganggap hidup ini adalah taman bermain yang indah, penuh dengan bunga, dengan langit biru, dan hembusan angin sejuk serta kicauan burung di udara. Tidak ada hal-hal yang perlu dikejar. Santai adalah moto utama mereka. Namun, kebosanan pun sering sekali menjadi bagian dari keseharian mereka.

Zona 2- The Thrill Zone
Zona ini merupakan zona yang panas karena penuh dengan tantangan. Para penghuni zona ini memiliki target-target yang ingin mereka capai dan mereka bekerja keras untuk mendekatkan diri mereka pada tujuan tersebut. Semangat kompetensi, antusiasme, dan optimism mewarnai suasana di zona ini. Tingkat stress cukup tinggi, memacu adrenalin untuk terus menghasilkan yang terbaik.

Zona 3- The Spill Zone
Analogi yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi di zona ini adalah saat semua pekerjaan menumpuk pada satu titik yang sama, dalam jumlah yang banyak, dengan tenggat waktu yang sangat rapat. Orang-orang dalam zona ini cenderung merasakan ketegangan yang tinggi. Begitu banyak yang harus diselesaikan, begitu sedikit waktu yang diberikan. Tumpukan pekerjaan yang tinggi pun sering kali membuat mereka tidak tahu harus mulai dari mana.

Zona 4- The Kill Zone
Suasana di zona ini cenderung kelam. Hawa panas masih terasa, tetapi kobaran api sudah mati. Kurang lebih seperti itu gambaran semangat dari orang-orang yang berada di zona ini. Setelah semua usaha yang dirasa sudah maksimal telah dilakukan, tetapi ternyata semua hal terjadi di luar dugaan, jauh dari keberhasilan, seseorang bisa dengan mudah terjerumus ke dalam zona ini. Depresi dan rasa kegagalan yang mendalam dirasakan oleh orang-orang di sini. Mereka mengalami overdosis stress.

Itulah keempat zona stress manusia. Setiap orang punya kecenderungan untuk ‘menetap’ pada satu zona dalam kondisi normal mereka. Ada orang yang terbiasa untuk hidup tanpa stress (zona 1) dan ada pula yang selalu dirundung stress akut (zona 4). Setiap orang punya kemampuan untuk berpindah dari satu zona ke zona lainnya. Misalnya seorang penghuni zona 2 bisa merilekskan diri dan berpindah ke zona 1 saat ia sedang pergi berlibur bersama teman-temannya, tetapi bisa juga masuk ke zona 3 saat dihujani banyak tugas dan pekerjaan dari atasannya.

Zona 2 adalah zona Eustress, yang membuat orang merasa lebih hidup dan berarti, punya semangat untuk maju, antusias menyambut hari baru, dan otomatis jauh lebih bahagia daripada orang-orang yang tidak tahu apa yang harus mereka lakukan dalam hidupnya. Jadi, mulai sekarang, jangan dulu khawatir saat kita merasa ‘sedikit stress’ karena justru dengan adanya stress itu ternyata hidup kita jadi lebih bermakna. Selamat menikmati stress Anda dalam dosis yang tepat!





Tanadi Santoso, 7 Augustus 2011.

Saat kematian tiba

Saat kematian tiba

~ Mary Oliver



Saat kematian tiba
seperti beruang lapar dimusim gugur;
saat kematian tiba, dan mengeluarkan dari dompet semua koin miliknya yang germerlap
untuk membeliku, kemudian dompet itu segera tertutup kembali;

saat kematian tiba
seperti cacar air;

Saat kematian tiba,
seperti gunung es menhantam bahu,

Aku ingin melangkah keluar pintu dengan penuh keingintahuan, bertanya tanya:
seperti apakah itu, rumah kegelapan?
Karena aku memandang segalanya seperti persaudaraan
dan aku menganggap waktu tak lebih dari sebuah ide,
dan keabadian sebagai salah satu kemungkinan.

Aku pikir hidup seperti bunga, sederhana
seperti sebatang daisy dipadang bunga daisy
dan setiap nama adalah nyanyian merdu
seperti lagu, menuju kesunyian
dan setiap tubuh seperti singa yang berani
dan memiliki arti di bumi ini

Saat semua berakhir, ingin kukatakan: Sepanjang hidupku
Aku adalah pengantin wanita yang menikah pada takjub
Aku adalah pengantin laki laki, yang membawa dunia kedalam pelukanku.
Saat semua berakhir, aku tak ingin bertanya tanya lagi
apakah aku telah membuat hidupku berarti; dan nyata
Aku tak ingin menghela napas berat,
dalam ketakutan,atau penuh pertengkaran
Aku tak ingin hidupku berakhir dengan hanya sekedar mampir di dunia ini.
======================================*********====================================

Baru saja menengok sahabat yang meninggal, dan tiba2 teringat pada puisi Mary Oliver ini, yang mempertanyakan kehidupan dan kematian, dan apa makna perjalanan ini.
Mary Oliver mempertanyakan ini, apa yang akan kita rasakan saat kita meninggal nanti? Kematian digambarkan dalam 4 bentuk pada awal puisi, seperti beruang dimusim gugur, seperti jiwamu dibeli oleh koin emas dari dompet langit, seperti cacar air yang tidak bisa kita hindari, dan seperti gunung es yang dingin. Kematian adalah kedinginan, dan gunung es telah mampu menhancurkan Titanic, apalagi hanya sekedar mengambil nyawa kita. Datangnya tidak mampu kita hindari, seperti cacar air.
Ketidak tahuan kita akan apa yang ada setelah kematian, di bahas dalam sebuah gambaran ketidak tahuan Oliver seperti pondok yang gelap. Sebuah keingintahuan yang melewati rasa penasaran. Penggambaran pondok menarik. Disini kata “cottage”, pondok, seperti bermakna rumah kedua, bukan “home”. Home is where our hearts are, cottage? Rumah adalah tempat hati kita berada, pondok? Jelas sebuah penampungan diri kita, alternatip rumah?
Hidup, dalam empat bait berikutnya digambarkan dengan sangat beragam. Seperti kekeluargaan yang penuh cinta antara masing2 manusia yang ada didalam bumi ini. Digambarkan hidup setiap orang seperti sebatang bunga daisy diantara padang bunga daisy. Seperti musik yang akhirnya akan menuju pada keheningan juga betapapun enaknya lagu itu. Juga seperti macan, yang berani dan memiliki arti masing masing di bumi ini.
Oliver memandang bahwa hidup manusia itu sama. Akan melewati kelahiran, kedewasaan hingga kematian. Dari sepi menuju sepi, dari debu menuju debu. Meski hidup akan membawa keindahan yang tidak akan bisa diingat lagi oleh manusia, dan apakah keabadian itu? Oliver, seakan ingin mengatakan bahwa kematian itu jembatan yang menuju suatu ketidaktahuan yang harus dilewati manusia dengan keragu raguannya.
Kata kata berikutnya terasa mendirikan bulu halus dikuduk kita: “When it's over, I want to say: all my life, I was a bride married to amazement. I was the bridegroom, taking the world into my arms.” Hidup ini buat Oliver bukanlah untuk dilewati saja, tapi untuk menikah pada “takjub”, untuk merengkuh seluruh isi dunia ini kedalam rangkulan kita. Kata2 kuat yang sering dipakai teman2 penulis dan penyair karena kekuatan maknanya.
Berapa banyak dari kita, yang pada saat tua, meragukan kembali pilihan perjalanan kita, mengapa tidak melakukan apa yang sudah ingin kita lakukan selama ini. Menjalankan mimpi kita. Takut, ragu2, mendesah, tidak pasti. Maka, pada bait berikutnya, Oliver mempertegas dengan menyatakan ketidak inginannya untuk mempertanyakan perjalanan hidupnya pada akhir hayatnya nanti.

Oliver sering mempertanyakan apa yang akan kita lakukan dalam hidup ini. Pada puisinya yang lain “Summer day”, Oliver menutup dengan kalimat: “Doesn't everything die at last, and too soon? Tell me, what is it you plan to do, with your one wild and precious life?” Bukankah segalanya akan mati juga, bahkan terlalu cepat. Katakan apa yang akan anda lakukan dengan hidup anda yang liar dan berharga ini.

Puisi ini ditutup dengan satu kalimat yang terisolasi menjadi satu bait sendiri:
“I don't want to end up simply having visited this world.”
Kata2 yang kuat ini terasa pas, pernyataan untuk tidak mau hidup hanyalah sekedar numpang lewat saja. Dan, kalau anda tidak mau “sekedar mampir” di bumi ini, apa yang akan anda perbuat dalam hidup anda?





*Tanadi Santoso (Re-Post 8/8/2011)

Mengurangi Stress

Stress itu sering baik untuk membuat kita lebih optimum dalam bekerja. Eustress, stress yang baik, pada fase “Thrill” sangat bermanfaat buat kita. Tetapi, sering kita mengalami stress yang berlebihan, dan membawa dampak negatip, baik untuk diri kita sendiri, ataupun orang2 disekeliling kita. Ada 9 hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi stress level kita:Mengurangi nilai kepentingan hal yang kita kuatirkan. Kita menjadi stress karena apa yang kita hadapi kita anggap sangat penting. Padahal tidak semuanya sebenarnya sepenting itu. Salah sedikit, miring sedikit, tidak lah apa2. Dengan mengurangi nilai pentingnya hal itu, akan membuat kita berkurang stressnya. 9 dari 10 orang stress selalu melebihkan resiko yang terjadi dengan menganggap akan terjadi hal yang jauh lebih parah dari yang sebenarnya.Mengurangi pemikiran akan kemungkinan itu terjadi. Teman yang takut terbang, memikirkan kemungkinan pesawat ada problem diudara. Dengan memikirkan bahwa hal itu sangat kecil kemungkinannya, kita dapat mengurangi stress kita.Berpikirlah dari sudut pandang yang lain. Kalau anda tidak diterima bekerja di A, mungkin masih ada pilihan di B, atau bahkan bisa membuat anda menjadi wiraswasta. Kita coba lihat persoalan dari sudut2 yang lain.Rayakan kesuksesan kecil anda. Kita stress sebab kita selalu menghawatirkan hal2 kecil dan negatip, kalau kita merayakan kesuksesan kecil kita, misalkan berhasil menyelesaikan proyek 3 hari lebih awal, perlu kita makan soto bersama. Kemeriahan perayaan mengurangi stress kita.Bertemulah dengan sahabat anda. Sahabat mengurangi stress, membuat kita menjadi bahagia, dan membuat suasana hati membaik. Kita perlu kadang membuat kehidupan sosial kita menjadi sebuah obat untuk penghilang stress kita.Gunakan mental energi kita untuk hal2 yang lebih positip. Kita arahkan fokus dan perhatian kita pada penyelesaian dan pada sisi2 positip tantangan yang kita hadapi. Jangan masuk pada lingkaran setan yang membuat kita menjadi terputar2 pada persoal kecil yang kita jadikan besar.Tanyakan kembali dengan pertanyaan yang lebih penting. Apakah ini akhir hidup anda bila anda gagal? Apakah yang anda pentingkan dalam hidup ini? Lima tahun dari sekarang, apakah hal ini masih sepenting ini? Siapa sebenarnya yang membutuhkan ini, apakah benar segenting ini persoalannya? Pertanyaan yang tepat akan membawa anda pada sudut hati yang tepat pula.Larilah sejenak. Bila tidak tahan dalam stress, cobalah ke Bali pada akhir pekan, atau ke kebun binatang pada hari Minggu, atau ke Bogor melihat tanaman. Pelarian sejenak memperbaiki suasana hati dan membuat kita lupa sejenak dengan persoalan yang ada.Hadapi dengan tegar, selesaikan persoalannya. Pada akhirnya harus kita hadapi juga persoalan yang ada. Memang tidak mudah, dan butuh ketahanan, tetapi pada akhirnya kita harus mau dan mampu menghadapi persoalan itu dan menyelesaikannya. Semoga 9 hal diatas dapat mengurangi stress yang anda alami, dan memperbaiki kehidupan anda. Stress yang baik perlu untuk kita punyai, tapi bila telah berlebihan harus kita kurangi juga supaya tidak terlalu membebani kehidupan kita. Salam sukses untuk anda.

*Tanadi Santoso, 15 Agustus, 2011.

Narsisme

Dunia baru.

Ada hasil riset yang agak berbeda, katanya, dalam jaman dimana anak kecil tidak pernah lagi dimarahi, tetapi selalu dipuji, bahkan untuk hal yang paling kecilpun, ternyata melahirkan generasi haus pujian. Disekolah, dirumah, dikampus, selalu mengharapkan pujian.

Ketika mereka masuk dunia nyata, dan melihat kehidupan kerja dan masyarakat yang keras, dan mereka tidak lagi dipuji oleh orang sekeliling mereka, maka terasa sebuah ketidak nyamanan yang dalam. Ada kekecewaan dan rasa rendah diri, mereka menganggap dirinya tidak mampu, dan menjadi orang yang gagal dalam hidupnya. Padahal sebenarnya hanya biasa biasa saja, sebuah perjalanan hidup yang umum. Apalagi ketika ditegur dimarahi, langsung saja putus asa.
Pujian yang berlebihan juga membawa narsisme. Narsisme adalah kekaguman akan diri sendiri yang berlebihan, tanpa empati dan perhatian pada orang lain.
Facebook, bersama dengan teknologi lainnya, membuat hal ini menjadi berkembang. Selamat Ulang tahun dari 157 orang, yang disebabkan karena teknologi yang memudahkan semua orang tahu tanggal lahir kita, membuat kita mulai merasa jadi orang penting. Seperti juga ada orang lewat depan kita dan tersenyum, kita merasa menjadi selebriti, merasa orang itu menghormati kita.

Teknologi membuat kita makin individualistik, dan narsis. Kita menjauhi orang yang tidak sesuai dengan pandangan kita, dan hanya berkumpul dengan orang yang setuju dengan kita saja. Dijaman dulu, kalau anda tidak suka dengan teman anda, susah menggantinya, karena dia hidup dekat dengan anda, dan tidak ada pilihan, tapi dijaman ini tinggal klik klik klik, sahabat kita dari ujung dunia sampai ujung Indonesia.

Kenaikan taraf hidup masyarakat secara umum, juga melahirkan pemanjaan, anak ingin beli apa saja dituruti, terutama dengan sibuknya orang tua, yang menimbulkan rasa bersalah ortu terhadap anak, membuat apapun yang diminta sang anak, disetujui saja. Generasi narsis pun makin menjadi egois, tidak mau perduli kepentingan orang lain. Dunia ini dianggap berputar untuk dirinya sendiri, porosnya ada pada jiwa kerdilnya.
Marilah kita kembali memantau diri kita kembali, menyeimbangkan kehidupan, sadar kembali pada dunia nyata, realistis pada keadaan, dan menjalani kehidupan dengan lebih realistis kembali.





*Tanadi Santoso, 21 Aug 2011 (Rewrite and Repost tulisan lama)

5 Most Important Questions

5 Pertanyaan terpeting.

Begawan Manajemen Almarhum Peter Drucker telah menulis banyak buku dan menelorkan begitu banyak teori tentang manajemen. Bahkan banyak ahli menganggap Peter Drucker adalah “penemu” Konsep Manajemen Modern yang kita anut sekarang ini.
Salah satu buku dan teori yang dibuatnya adalah tentang “The 5 Most Important Questions” yang asalnya dibuat untuk perusahaan nirlaba. Inilah pertanyaan pertanyaan mendasar yang harus dijawab seorang CEO, manager, supervisor ataupun pebisnis.

What is Our Mission? Apa sebenarnya misi kita? Menggabungkan kemampuan kerja kita, kesempatan yang ada, dan komitmen kita untuk menghasilkan sebuah karya, maka kita harus menentukan apa yang kita akan anggap sebagai “sukses”? Laba perusahaan, kemakmuran semua karyawan, atau apa yang membuat kita mau bekerja keras? Ukuran “Key Performance Index” apa yang kita pakai sebagai tolok ukur?
Who is our customers? Siapa sebenarnya pelanggan kita? Sebuah organisasi tidak mungkin memuaskan semua orang, kita harus berani memilih pelanggan yang cocok dengan atribut perusahaan kita, dan melupakan yang bukan pelanggan.
Siapa target paling utama, siapa yang kedua, dan bagaimana dinamika pelanggan dulu, sekarang, dan trend masa depan. Pemahaman yang dalam akan pelanggan kita akan memudahkan kita menjadi lebih efektip dalam melaksankan pekerjaan kita.
What does the customer value? Apa yang diinginkan pelanggan kita? Tidak mungkin kita memuaskan segalanya sepenuhnya. Kita haru tahu apa yang menjadi titik kunci dalam pelanggan kita memilih kita. Hal apa yang membedakan anda dengan pesaing anda, sehingga kalau bisa pelanggan anda hanya akan menginginkan produk anda saja, dan tidak dapat menemukannya pada kompetitor anda.
What are our results? Bagaimana hasil kita selama ini? Bagaimana hasil kerja kita selama ini, baik dari sisi penjulan, laba rugi, kepuasan pelanggan, karyawan, dan persepsi orang tentang brand kita? Apakah sudah kita nilai semua devisi perusahaan kita dengan baik? Apakah ada sistem yang jelas untuk mengecek keberhasilan kita terhadap misi yang kita inginkan? Evaluasi rutin yang baik akan memberikan tolok ukur yang jelas.
What is our plan? Apa rencana kerja kita? Semua perbaikan harus dilakukan dengan perencanaan yang baik. Dengan pendelegasian yang jelas, dengan tolok ukur yang jelas, dengan penanggung jawab yang jelas. Secara sistematik kita harus selalu memperbaik diri dan melakukan pekerjaan secara lebih efektip dan efisien. Apa yang salah, apa yang baik, dan bagaimana menjadi lebih baik dari kompetitor kita, semuanya kita lakukan dengan rencana kerja yang jelas.

5 Pertanyaan terpenting untuk bisnis kita ini juga dapat kita terapkan dalam kehidupan keseharian kita. Mempertanyakan kembali apa sebenarnya mimpi kita, apa yang kita anggap penting dalam hidup ini. Siapa yang kita layani, dan apa yang mereka anggap penting, bagaimana kerja kita selama ini, cukup sukseskah? Lalu apa rencana kita saat ini untuk menjadi lebih “sukses”?





*Tanadi Santoso, Surabaya, 12 Juni 2011



*Materi ini berdasarkan buku Peter Drucker dan pernah saya pakai sebagai seminar on the air, saya tulis ulang secara ringkas sebagai materi M3.



*Facebook page ini telah penuh, untuk teman2 baru silahkan add pada www.facebook.com/tanadisantoso4



*Workshop Design Thinking di Jakarta, Ritz carlton 22-23-24 Juni 2011, Info pada:www.tanadisantoso.com