Tampilkan postingan dengan label wisata rohani katholik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata rohani katholik. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 27 Agustus 2011
Rawaseneng
Musim liburan bagi beberapa orang adalah musim berwisata. Selain wisata alam, wisata kuliner, atau wisata belanja, sekali-sekali cobalah berwisata rohani. Saya bagikan kembali pengalaman saya ketika berkunjung ke Pertapaan Trappist di Rawaseneng, tahun 2010 lalu.
====================================================================================
Awal tahun 2010 lalu saya dan kawan saya, Ch. Mulyani, jalan-jalan ke Pertapaan Santa Maria Rawaseneng. Perjalanan kami awali dari Ambarawa karena kami baru saja menghabiskan malam tahun baru di Goa Kerep Ambarawa. Dari terminal Ambarawa kami naik bus jurusan Semarang – Jogja. Di Secang kami turun, dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus yang lebih kecil lagi ke arah Maron. Ketika kami menyebutkan tujuan kami, pak Kondekturnya langsung menebak: “Mau ke Rawaseneng ya Mbak?”
Mungkin memang musim seperti ini banyak yang pergi ke sana.
“Ke tempat pastor-pastor itu kan Mbak?” kata pak Kondektur itu lagi ramah.
Sampai di pertigaan Maron, kami berhenti dulu dan mencari teh untuk menghangatkan perut kami. Kebetulan pula ibu pemilik warung itu menggoreng tempe gembus! Hwaduh! Sudah hampir seperempat abad sejak meninggalkan Jogja kami tidak pernah lagi merasakan tempe gembus! Jadilah kami seperti kesetanan melihat makanan tersebut!
Angkutan Pedesaan yang membawa kami berhenti di dusun Rawaseneng, yang merupakan perhentian terakhir. Dari situ kami masih harus berjalan kaki, namun tidak terlalu jauh, hanya sekitar 200 m. Sampai di pertapaan, kami disambut oleh Frater Blasius, OSCO yang selama ini berkomunikasi dengan kami mengenai Rawaseneng.
Kami ditunjukkan kamar yang luar biasa bersihnya. Kami sampai ternganga melihatnya. Perabotannya sungguh sederhana, terdiri dari dua buah dipan dengan kasur dan seprei putih. Satu buah meja kayu, dua buah kursi kayu, dan satu buah lemari yang juga terbuat dari kayu. Ketika saya mencoba mengangkat kursinya… mak! Bueratnya minta ampun! Lantainya juga lantai ubin, yang kesemuanya beserta dengan perabotannya mengingatkan saya pada rumah masa kecil saya…
Kamar itu memiliki satu jendela besar yang langsung menghadap ke arah kebun belakang. Jadi, begitu jendela dibuka, tampaklah rumput menghampar dengan jajaran bunga kemerahan di sela daun-daun hijau yang segar. Dari situ juga nampak sebuah pohon durian, pohon alpukat dan pohon mangga. Kedua pohon ini kelihatannya sedang berbuah walaupun masih belum masak…
Setelah selesai ternganga-nganga melihat kamar kami, kami segera mandi dan beres-beres, karena jam 10 misa awal tahun akan segera dimulai. Saya sudah tahu bahwa air di daerah pegunungan pasti dingin. Tapi, tahu ternyata tidak sama dengan merasakannya sendiri! Begitu merasakan guyuran air itu…. Brrrrr!!!!! Saya terkejut setengah mati! Dingiiiiiiiiinnnnnyaaa!!!!
Jam 10 tepat, misa awal tahun dimulai. Tanggal 1 Januari juga merupakan peringatan Santa Perawan Maria Bunda Allah. Misa dilangsungkan di Kapel Santa Maria yang bentuknya sangat unik. Tempat duduk umat dipisahkan dengan tempat duduk para rahib. Dan tempat duduk para rahib ini tidak menghadap ke altar, melainkan menghadap ke sisi kiri untuk lajur di sebelah kanan dan sebaliknya. Jadi, ketika berdoa, atau menyenandungkan kidung, para rahib ini saling berhadapan.
Mereka, para rahib itu, mendapat tempat satu kursi seorang. Uniknya, kursi mereka bisa dilipat, sehingga bila mereka berdiri, mereka melipat kursi mereka ke atas. Demikian juga, bila hendak duduk, mereka menurunkan kursi mereka untuk diduduki. Ketika hendak pulang, saya pernah mencoba menurunkan lipatan kursi ini untuk saya foto… dan ternyata beratnyaaaaa minta ampun! Saya bayangkan betapa kuatnya tangan-tangan para rahib itu karena dalam satu kali ibadat harus beberapa kali mengangkat dan menurunkan lipatan kursi!
Walaupun masih dalam suasana Natal, kapel kecil ini tidak ramai dihiasi dengan pernik-pernik Natal. Hanya ada gua Natal yang diletakkan persis di bawah altar. Jadi seolah-olah altar itulah guanya. Di situlah diletakkan patung Bunda Maria, Santo Yosef, dan tentu saja El Nino di tengah-tengahnya. Selebihnya hiasan kapel itu adalah rangkaian bunga hidup yang nampaknya dipetik dari kebun pertapaan.
Misa berlangsung dengan sederhana namun khidmat. Walaupun tanpa dirigen, lagu-lagu dinyanyikan bersama dengan padu, dengan iringan organ yang lembut. Sejuk rasanya telinga kami mendengarnya. Umatpun mengikuti misa dengan tekun dan sopan.
Tidak ada yang berbicara apalagi main hape! Rasa hormat umat terhadap Allah yang hadir dalam misa kentara sekali di misa hari itu di kapel kecil itu…
Setiap harinya, para rahib mengadakan enam kali ibadat dan satu kali Ekaristi. Untuk hari biasa ibadat akan dimulai pk. 3.30 dini hari dengan Ibadat Bacaan, dilanjutkan Ibadat Pagi pada pk. 6.00. Kemudian pada pukul 08.00 tepat diadakan Ibadat Siang I. Ibadat Siang II mulai pk. 12.00. Pukul 14.30 akan diadakan Ibadat Sore, dan selanjutnya pada pukul 17.30 diadakan Ekaristi. Hari itu akan ditutup dengan Ibadat Penutup pada pukul 19.45.
Untuk hari Minggu atau hari Raya seperti hari itu, biasanya akan diadakan misa pukul 10.00 dan Ibadat Siang I ditiadakan. Sorenya, pukul 17.30 biasanya diadakan Ibadat Sore dan dilanjutkan dengan adorasi.
Ketika masih di Pekanbaru, Frater Blasius, OCSO yang kami telepon mewanti-wanti betul supaya kami mengikuti semua ibadat tersebut. Tentu saja kami sangat bersedia mengikuti semua ibadatnya! Memang berat rasanya, masih enak-enak tidur, eh, sudah harus ibadat lagi. Tetapi sulit juga untuk dipungkiri,ternyata kami sangat menyukainya.
Pagi itu selesai misa, kami langsung menikmati snack pagi. Snack pagi itu berupa kue-kue kering buatan Pertapaan Santa Maria yang terkenal enak. Dan, ternyata benar, kue lidah kucing yang dihidangkan beda sekali rasanya! Kering, renyah, gurih… intinya: lezat!
Snack tersebut ditemani dengan tiga pilihan minuman hangat; kopi, teh, atau susu asli dari sapi-sapi yang dipelihara oleh pertapaan. Kopi pun kopi asli dari perkebunan pertapaan. Wah… sedapnya….!
Selanjutnya setiap pagi pukul 9 dan sore pukul 3 kami boleh menikmati snack. Snacknya berupa kue-kue sederhana yang enak rasanya, seperti unti, tahu goreng, tempe goreng, dan lain-lain yang semua disajikan hangat-hangat. Di tengah udara yang sangat dingin di Rawaseneng seperti itu, rasanya ingin sekali menghabiskan satu nampan tahu goreng…!
Sehabis menghabiskan snack pagi itu, kami sempatkan berjalan-jalan ke kandang sapi, sambil menunggu waktu Ibadat Siang.
Pertapaan ternyata memiliki banyak sekali sapi; jantan, betina, dan juga anak-anak sapi. Dan uniknya, untuk sapi-sapi betina, mereka diberi nama! Ada sapi bernama Theresia, atau Magdalena! Saya jadi geli sendiri. Keesokan harinya kami sempat nonton bagaimana sapi-sapi itu diperah susunya. Sapi-sapi di sana begitu besar. Mereka nampak kuat dan sehat. Apalagi sapi-sapi jantannya, nampak kekar dan sangar. Selain sapi perah, pertapaan juga memelihara babi. Saya tidak tahu, apakah para babi itu juga memiliki nama.
Sayangnya, hari itu kami tidak bisa memuaskan keinginan kami untuk berjalan-jalan berkeliling pertapaan. Menjelang sore, setelah Ibadat Sore, cuaca menjadi mendung, dan kabut tebal langsung menutupi kawasan pertapaan, dan kemudian hujan turun. Aduuuh… kecewanya…. Menurut salah seorang pengunjung, sejak minggu terakhir Desember, pertapaan selalu diliputi awan dan kemudian hujan.
Tentu saja, pemandangan alam pegunungan yang sejuk dan segar, lengkap dengan peternakan sapi dan kebun kopi, bukanlah satu-satunya daya tarik Pertapaan Rawaseneng. Yang kami cari, dan kami yakin sebagian besar orang yang datang ke situ cari, adalah keindahan ibadat-ibadat yang dilakukan oleh para rahib, yang selama dua hari itu coba kami ikuti. Sebenarnya sangat sulit menggambarkan setiap detik demi detik yang sangat berharga, ketika kami mulai memasuki kapel kecil yang sederhana namun anggun. Keheningan yang ditawarkan seperti guyuran air hujan di musim kering.
Satu-satunya kemewahan duniawi adalah musik organ yang dimainkan dengan lembuuuuut sekali, berpadu indah dengan suara empuk para rahib. Mazmur-mazmur semua dilagukan, dan dinyanyikan dengan nada-nada yang sangat sederhana. Namun, kesederhanaan itulah yang malahan membuatnya menjadi begitu indah.
Ibadat-ibadat ini sebelumnya selalu diawali dengan dentang lonceng. Bunyi lonceng ini begitu merdu terdengar, seolah-olah suaranya bergema, dipantulkan oleh bukit-bukit di sekeliling pertapaan. Bunyi lonceng panjang menandakan ibadat tinggal setengah jam lagi. Lonceng panjang ini juga sekalian panggilan untuk pulang, bagi para rahib yang sedang bekerja di luar pertapaan. Dan bunyi lonceng pendek menandakan ibadat akan dimulai sepuluh menit lagi. Bila dentang lonceng sudah berbunyi, maka satu persatu para rahib dengan tertibnya memasuki kapel, kemudian berlutut dan berdoa. Nyaris tak ada suara yang terdengar, kecuali derak lantai kayu bersentuhan dengan sandal-sandal karet para rahib…
Begitu jam di kapel tersebut berdenting, menunjukkan waktu sudah jam 3.30 atau jam 6.00 atau jam-jam ibadat lainnya, langsung saja organis akan memulai mengetuk tuts-tuts organnya. Bila tidak menggunakan organ pun (kelihatannya organ hanya digunakan pada hari besar – penulis), maka salah seorang rahib pasti akan langsung memulai ibadat.
“Ke dalam tanganMu, kuserahkan diriku, ya Tuhan penyelamatku…” Ini adalah larik pertama yang mengawali setiap ibadat.
Semua berlangsung tanpa komando yang menghebohkan. Keheningkan tetap terjaga sampai ibadat selesai. Ketika ibadat selesai, para rahib ini biasanya masih melanjutkan dengan meditasi pribadi, kemudian satu per satu dengan tenang dan tertib meninggalkan kapel.
Umat yang mengikuti misa ataupun ibadat pun jadi ikut-ikutan tertib. Tidak ada yang berani bersuara selama ibadat atau misa berlangsung. Saya sendiri sampai tidak berani menggambil gambar. Rasanya takut sekali merusak keindahan suasana yang begitu hening seperti itu. Selain juga rasanya sayang melewatkan sekian menit waktu ibadat dengan mengambil gambar…
Hari itu, hari Sabtu, diadakan ibadat-ibadat seperti biasanya. Namun, tidak seperti hari-hari yang lainnya, malamnya setelah Ibadat Malam diadakan adorasi. Pada saat adorasi, semua lampu kapel dimatikan. Monstran diletakkan di tengah di antara tiga pasang lilin yang disusun berjenjang, dari pendek ke panjang, sehingga menimbulkan silhouette yang indah. Adorasi dilagukan dalam bahasa Latin.
Salah satu yang sangat menyentuh buat saya, adalah ketika pada hari Sabtu malam itu, setelah Ibadat Penutup dan adorasi, para rahib keluar dari kapel dengan sebelumnya menerima percikan air suci. Ternyata, umat pun diperkenankan maju untuk menerima percikan air suci… Wah… sulit rasanya menggambarkan apa yang saya rasakan. Rasanya seolah-olah Tangan Tuhan sendiri tengah menyentuh saya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang… Rasanya damaiiiiii sekali…
Yang juga sangat menyenangkan di Rawaseneng adalah keakraban yang timbul bersama tamu-tamu lain yang datang. Sejak kami pertama datang, kami merasa sambutan sesama pengunjung luar biasa ramahnya! Bila berpapasan, tidak ada dagu yang terangkat tinggi atau muka yang berpaling dengan wajah dingin. Semua saling berhenti sejenak, memberi jalan, dan menanyakan kabar. Karena hari itu adalah suasana Natal dan Tahun Baru, maka ucapan “Selamat Natal dan Tahun Baru” ramai terdengar. Ini beda sekali dengan suasana bila kita menginap di hotel atau tempat penginapan lainnya.
Di sela-sela waktu makan, kami pun bertukar cerita. Pengunjung rata-rata berasal dari pulau Jawa, entah Jakarta, Jawa Barat, ataupun Jawa Timur. Pada saat itu, kamilah pengunjung terjauh, yakni dari Pekanbaru, Riau. Mereka pun datang dengan berbagai alasan, ada yang bersyukur untuk ulang tahun perkawinan, ada yang memang ingin memperkenalkan cara hidup sederhana pada anak-anak mereka, dan ada juga menjadikan kunjungan ke Rawaseneng ini kegiatan rutin, setiap Natal merayakannya di Rawaseneng.
Hari Minggu, tanggal 3 Januari 2010, kami harus mengakhiri “retret” kami di Rawaseneng. Sungguh dua hari yang sangat berharga, tidak hanya secara fisik saja, tetapi terlebih untuk bathin kami. Secara fisik, harus saya akui, saya yang biasanya susah makan, jadi sering krucuk-krucuk di situ. Padahal makanan yang disajikan “hanyalah” tumis-tumisan, seperti tumis pepaya muda, atau tumis kacang panjang dengan telur dadar, misalnya. Namun, porsi makan saya meningkat tiga kali lipat… hahahaha….
Secara rohani, tentu sulit saya mengukurnya, namun saya berharap, semoga Tangan Tuhan menyembuhkan kelemahan-kelemahan saya dan menuntun saya dan keluarga dalam menjalani kehidupan. Amin!
Kami berpamitan, pada teman-teman yang masih tinggal, dan juga pada Frater Blasius, OCSO. Dan, psst… kami malah dibawakan oleh-oleh berupa dua kaleng kue kering; kue coklat dan kestengels! Horeee!!!
Selamat tinggal Rawaseneng, semoga suatu saat bisa bertemu lagi! Berkah Dalem!
Pekanbaru, 4 Januari 2010 ,Agnes Bemoe & Ch. Mulyani
oleh Hidup Baru pada 18 Juli 2011 jam 9:45
[WISATA ROHANI] Gedono - Cerita Sekeping Surga
Dengan naik bus umum, kami meninggalkan Ambarawa menuju Salatiga. Jarak tempuhnya sebetulnya tidak terlalu jauh, tetapi karena bus lama berhenti untuk mencari penumpang, maka perjalanan jadi bertambah sekitar 1 jam. Sampai di Terminal Tingkir Salatiga, kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki ke arah Boyolali/Solo, sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Suster Martina, OCSO kepada kami.
Jalan kaki dengan memanggul ransel ternyata cukup membuat kami ngos-ngosan.
Kami berharap cepat menemukan papan penunjuk ke arah Gedono.
Syukurlah, setelah beberapa saat akhirnya kami temukan juga pertigaan ke arah Gedono. Sebuah plang kecil bertuliskan “GEDONO” membuat kami yang sudah kelelahan jadi bersemangat lagi. Lalu, dengan naik ojek, kami melanjutkan perjalanan ke Gedono. Untung Suster Martina sudah melengkapi kami dengan informasi, termasuk ongkos ojek. Namun demikian, nampaknya Bapak Tukang Ojek itu sama sekali tidak berniat “menodong” kami. Jadinya, tidak ada tawar-menawar yang rumit.
Dari pertigaan itu, kami masih harus menempuh perjalanan kurang lebih 7 km lagi. Lumayan juga. Tapi, sama sekali tidak rugi, karena ternyata pemandangan di sisi-sisi jalan sangat menarik. Hijau di mana-mana. Rumah-rumah yang jarang-jarang dengan bentuknya yang masih asli (khas rumah Jawa). Kami menikmati pemandangan pedesaan di sepanjang jalan kecil beraspal hitam itu.
Dan, akhirnya, setelah melewati jalan kecil panjang yang menanjak itu, kami sampai juga di pertapaan Santa Maria Bunda Pemersatu, Gedono. Udara yang segar cenderung dingin menghilangkan kelelahan kami. Malahan, kami jadi lapar…
Sr. Martina OCSO menyambut kami dengan ramahnya. Beliau segera menunjukkan kamar kami berserta kelengkapannya (kamar mandi, kamar cuci). Mata saya langsung terperangkap pada arsitektur Gedono yang unik. Dindingnya semua menggunakan batu gunung asli, yang disusun sedemikian rupa. Di beberapa bagian direkatkan dengan semen. Dinding batu tebal ini dipadu dengan jendela kayu berbentuk kubah, mirip dalam gambar-gambar di cerita kurcaci jaman saya kecil. Perpaduan batu gunung, kayu coklat, dan kusen warna putih sungguh sangat cantik kelihatannya. Ditambah lagi dengan lubang angin yang dibuat berbentuk lingkaran, kubus, persegi panjang, dan disusun dengan artistik di dinding, benar-benar membuat tembok itu menjadi seperti sebuah karya seni.
Belum sempat saya menikmati indahnya bangunan Gedono, Sr. Martina sudah menyuruh kami untuk minum air hangat dan menikmati snack. Tawaran yang tentu saja langsung kami iyakan… Dan, segelas air teh di pagi itu sungguh menjadi surga bagi perut kami yang sudah keroncongan dari tadi. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 10.30an.
IBADAT
Selanjutnya, kami memulai kegiatan di Gedono dengan mengikuti Ibadat Tengah Hari (Sexta). Begitu mendengarkan para suster itu menyanyikan serangkaian mazmur sebagai doa, hati saya langsung luruh. Suara mereka begitu bening dan halus seperti suara gemerincing kristal atau dentingan harpa. Kebanyakan para suster ini berdoa dengan diiringi zithera (mirip harpa). Perpaduan antara zithera dan lantunan suara para suster ini sungguh sulit diungkapkan dengan kata-kata. Heavenly! Lebih seperti mendengar kemericik air, atau gesekan bambu, atau siulan burung. Nada-nada yang terpadu itu begitu indah dan lembut. Wah, saya begitu terpana… Yang saya suka adalah harmonisasi antara alat musik pengiring dengan lantunan suara para suster. Tidak ada yang saling mendominasi. Bunyi zithera yang lamat-lamat malah membuat indah paduan lantunan doa itu. Memang saya ke sana untuk berdoa (dan bukannya jadi pengamat musik gereja dadakan!), tapi, harus saya akui, bahwa musik dan lantunan suara yang harmonis sungguh sangat membantu saya membangun suasana doa. Ketika pulang, saya membeli beberapa CD lagu-lagu Senandung Gedono. Tapi, ternyata mendengarkan CD jauh berbeda dengan mendengarkan aslinya!
Dalam sehari para suster di Pertapaan Santa Maria Bunda Penebus Gedono ini melakukan enam kali ibadat ditambah satu kali misa. Dini hari pada pukul 3.15 ketika malam masih begitu pekat, ditambah lagi dengan kabut dan dingin yang menusuk tulang, para suster di biara ini sudah mengadakan Ibadat Malam. Ibadat ini dilanjutkan dengan doa/meditasi selama 30 menit. Pada saat Ibadat Malam ini penerangan digunakan secara minim. Pada beberapa bagiannya, lampu bahkan dipadamkan. Yang disisakan hanyalah lampu di bagian pengunjung (kami). Terlebih pada saat doa/mediasi, tidak ada satu lampu pun tersisa, kecuali lampu merah di Sakristi, dan lampu yang dengan lembut menyorot patung Bunda Maria di sudut kapel.
Bicara tentang patung Bunda Maria ini, saya pada mulanya tidak sadar, bahwa yang sedang disorot itu adalah patung Bunda Maria. Patung itu sejak awal tidak langsung menarik perhatian saya. Setelah satu hari di sana baru sel-sel kelabu dalam kepala saya bekerja. Saya mengamati dengan seksama patung berwarna kecoklatan yang sedang disorot lampu itu. Tidak hanya itu saja, umat yang pun memiringkan tubuhkan supaya secara khusus menghadap pada patung itu. Barulah kilat menyambar otak saya: itu adalah patung Bunda Maria! Bunda Maria mengenakan jarik, kebaya, dan bersanggul konde a la ibu-ibu dari Jawa. Di tangan kanannya Beliau menggendong Bayi Yesus dengan menggunakan selendang jarik, sedangkan tangan kanannya terulur kepada umat, seakan berkata: “Sini, Nak…”.
Saya sangat menyesali kebutaan saya terhadap Bunda Maria dalam visi Jawa ini! Namun, di lain pihak, patung itu benar-benar unik. Warna coklatnya sangat alami. Bunda Maria juga digambarkan begitu sederhana, seperti ibu-ibu di pasar Beringharjo. Saya pernah melihat Bunda Maria dalam visi Bali di sebuah gereja di Denpasar. Saya ingat saya langsung mengenali bahwa itu Bunda Maria yang digambarkan dengan pernak-pernik khas Bali. Herannya, kok otak saya bisa begitu tumpul ketika berhadapan dengan Dewi Maria ini.
Selanjutnya, pada pukul 6 pagi diadakan misa, yang diintegrasikan dengan Ibadat Pagi. Karena jarak antara selesainya Ibadat Malam dengan Misa tidak terlalu jauh (kurang lebih 1 – 1,5 jam) maka saya tidak mau tidur lagi (takut malah ketiduran). Saya gunakan untuk jalan-jalan di sekitar pertapaan. Melihat langit yang berubah pelan-pelan dari pekat, menjadi agak terang, agak terang, agak terang, dan kemudian benar-benar terang merupakan pengalaman yang menakjubkan buat saya. (Sebetulnya, tidak bisa dibilang benar-benar terang. Kabut tebal kadang menyulitkan sinar matahari untuk menerobos masuk).
Tepat pukul 8 pagi diadakan Ibadat Tertia. Ibadat selanjutnya adalah Ibadat Tengah Hari (Sexta) pada pukul 11, yang lalu dilanjutkan dengan Makan Siang. Berikutnya pada pukul 13.10 diadakan Ibadat Siang (Nona).
Ibadat Sore dilaksanakan pada pukul 16.45. Pada saat Ibadat Sore sekaligus juga dilakukan Pentahtahan Sakramen Maha Kudus (Adorasi). Setelah itu disambung dengan doa pribadi/meditasi selama 30 menit.
Ibadat terakhir pada hari itu adalah Ibadat Penutup pada pukul 18.55.
Lagu-lagu yang dinyanyikan tidak semuanya berbahasa Indonesia. Terkadang dinyanyikan juga lagu-lagu Gregorian (Te Deum, Salve Regina, atau lagu lagu-lagu Ordinarium lain). Yang menarik adalah, para suster juga menggunakan lagu-lagu yang digunakan oleh Gereja Katolik Ritus Timur. Pada saat Ibadat Penutup digunakan Ibadat Penutup Byzantium; lagu-lagunya terdengar familiar, namun tetap “eksotis”. Buat saya, tidak saja saya bisa berdoa, namun juga telinga saya serasa termanja dengan alunan musik dan lagu-lagu yang lembut, merdu, dan syahdu, yang dinyanyikan para suster dalam setiap ibadatnya.
MALAM PERGANTIAN TAHUN
Kami berada di Gedono tepat ketika saat pergantian tahun 2010 ke 2011.
Hari itu di pertapaan sendiri tidak tampak hal-hal yang lain dari biasanya. Seolah-olah para suster tidak sadar bahwa tahun sudah berganti.
Hari masih sore ketika kabut tebal sudah turun di sekitar pertapaan. Kabut tak juga menipis, sampai kami mengadakan Ibadat Penutup. Satu-satunya yang menandai adanya suatu “peristiwa besar” pada malam itu adalah digunakannya Ibadat Penutup Byzantium, yang merupakan kekhasan dari Pertapaan Bunda Maria Pemersatu Gedono.
Setelah ibadat Penutup, Sr. Martina berinisiatif untuk mengajak para tamu (yang sudah tinggal 7 orang) untuk mengadakan ibadat kecil di depan gua Natal, di muka pintu utama pertapaan. Ibadat itu sederhana sekali. Kami menyanyikan satu-dua lagu Natal, kemudian berdoa dan saling mendoakan. Besok kami masing-masing sudah tidak bisa saling bertemu satu sama lain.
Setelah itu, semua berlangsung seperti biasa. Kabut tetap turun, kami kembali ke kamar masing-masing. Berangkat malam dari kejauhan terdengar berbagai bunyi-bunyian menyambut pergantian tahun; mulai dari petasan, sampai dangdutan dan wayangan.
Saya sendiri bangun, tepat pada pukul 12 malam itu. Saya mencoba keluar, tujuan saya ke kapel, tetapi pintu kapel ternyata terkunci. Ya sudah, saya kembali ke kamar. Namun, sempat saya lirik langit hitam di atas kepala saya. Kabut sudah menipis, bintang kelihatan satu dua di antara bayang-bayang pohon. Bulan sama sekali menghilang. Malam itu sama sekali tidak meriah, apalagi spektakuler.
Namun, sadar bahwa masih diberi kesempatan melihat hari dan tahun baru membuat saya tidak memperdulikan betapa tidak meriahnya malam tahun baru saya.
Apalagi, bila saya mengingat betapa penyertaan selama tahun 2010 khususnya, tidak bisa tidak saya mensyukuri langit hitam dan bintang satu dua yang jadi pemandangan malam tahun baru saya…
SAYA DAN MAKANAN
Bila memang tujuannya bukan untuk berdoa, mungkin Gedono menjadi tempat yang kurang menarik. Karena selain bentuk bangunannya, nyaris tidak ada lagi yang bisa “dinikmati” di sana. Para tamu juga tidak diperbolehkan melihat-lihat kebun dan peternakan sapi milik para suster. Sehingga, waktu kosong nyaris terasa banyak. Saya pernah mencoba membujuk bapak yang menjaga gerbang ke arah kebun suster, untuk mengizinkan saya masuk. Bapak itu berkata dengan lugu: “Jangan, Mbak, ndak boleh masuk. Saya juga ndak boleh…” . Ya sudah… Memang kelihatannya Tuhan lagi menyuruh saya untuk serius berdoa, dan bukannya blusukan ke mana-mana… Saya sendiri akhirnya mengisi waktu dengan mengetik di Blackberry saya.
Sekali, pada suatu pagi, saya menggunakan waktu untuk berdoa Jalan Salib sendirian di pelataran bawah, di mana disediakan jalur khusus untuk Jalan Salib.
Walaupun tidak hapal peristiwa-peristiwa dalam Jalan Salib, saya nekat saja. Saya merenung saja di depan Salib yang bertempel gambar peristiwa, sambil merasakan udara dingin yang menampar pipi dan buku tangan saya… Kalau saya menuliskan “kicauan burung”, “gemerisik daun”, mungkin terasa klise. Namun, pagi itu memang indah sekali berdoa sambil mendengarkan kicauan burung yang bersaut-sautan dari satu pohon ke pohon lain. Mendengar gemerisik daun ditiup angin, sambil merasakan keras dan dinginnya batu-batu gunung di telapak kaki saya. O ya, sekeliling pertapaan nampaknya ditanami dengan pohon cengkeh. Indahnya pohon cengkeh ini adalah daunnya yang masih muda berwarna jingga cenderung semburat merah.
Jadi, bisa anda bayangkan, paduan nuansa hijau, jingga, dan kemerahan di sekeliling anda… Sungguh luar biasa!
Makanan menjadi tantangan tersendiri. Udara dingin membuat saya cepat lapar. Biasanya kalau di rumah, asal lapar, saya mencari makanan. Dan biasanya makanan yang masuk adalah makanan yang gurih lezat, seperti kentang goreng, camilan, mie instant, dll. Di Gedono tentu saja saya tidak bisa makan sesuka-suka saya. Padahal, perut saya sepertinya lapar setiap saat… Alhasil, jam makan menjadi saat yang paling ditunggu-tunggu! Masakan suster pada umumnya sederhana, tapi segar! Begitu merasakan masakan suster, saya langsung tahu bahwa suster sama sekali tidak menggunakan MSG atau “kaldu ayam” (bahan masakan yang jadi kesukaan saya).
Tidak hanya itu saja, jumlah garam yang digunakan suster pasti jauh di bawah takaran saya di rumah. Sekali lagi, saya adalah tipe orang penyuka garam dan bumbu masak. Makanya, lidah saya tersiksa, karena terbiasa termanja dengan berbagai makanan gurih! Tidak hanya lidah saja, tapi keinginan untuk makan sebanyak-banyaknya pun jadi tersendat, karena lidah agak macet mengolah makanan! Hahaha…. Alhasil, perut lapar berat, tapi, lidah masih mencoba bernegosiasi dengan rasa.
Namun, saya langsung merasakan manfaatnya: sampai hampir dua minggu setelahnya saya bebas dari migren yang biasanya jadi tamu harian saya! Saya percaya, pengurangan MSG dan garam membantu mengusir migren saya yang suka membandel. Sekarang saya tidak mau lagi menggunakan “kaldu ayam”, dan mengurangi jumlah garam dalam masakan. Aduh, suster, terima kasih! Bukan hanya hati saya yang sejuk dan adem, kepala saya yang suka migren juga terasa lebih lega, leher saya tidak kaku dan kemeng-kemeng. Saya tak menyangka mendapat bonus sehat dari kunjungan ke Gedono… hehehe…
Di Gedono juga saya memberanikan diri mencoba makanan yang tidak saya sukai: yogurt! Saya heran, karena banyak orang datang ke Gedono, hanya khusus untuk membeli yogurt. Bahkan saya sempat ketemu seorang gadis dari Jakarta yang sedang jalan-jalan ke Salatiga. Dia sampai rela menunggu waktu buka toko, untuk membeli yogurt Gedono.
Saya pun jadi tertarik, padahal saya tidak suka susu dan produk-produk olahannya. Sambil menutup hidung, saya mencoba yang botol kecil, yang rasa sirsak. Hweeeehh!!! Saya tidak tahu enaknya di mana. Tapi, yang jelas, memang saya merasa perut saya agak “enteng” setelah itu…
Yang paling saya suka dari Gedono adalah selainya. Wah, kalau yang ini benar-benar top markotop! Rasa manisnya tidak tajam, juga tidak ada bau-bauan bahan pembuat makanan. Teksturnya pun lembut, dengan rasa “printil-printil” yang membuat sensasi tersendiri…
AKHIRNYA, HARUS PULANG
Hari itu, tanggal 1 Januari 2011, selesai ibadat pagi dan kemudian sarapan, kami pulang. Walaupun rasanya berat meninggalkan suasana yang begitu tenang dan damai di Gedono, tapi, tidak bisa tidak, kami harus pulang. Kami tidak lagi pamit pada Sr. Martina, karena beliau sedang ada kegiatan. Namun, kemarinnya kami sudah berpamitan.
Kami menggunakan ojek yang kami pakai ketika datang.
Suster Martina sudah mengingatkan bahwa tidak ada kendaraan umum lain selain ojek, sehingga harus memesan ojek sebelumnya. Untung bapak tukang ojek kami juga berinisiatif, ketika mengantar kami waktu kami datang, bapak itu sudah menawarkan untuk mengantar pulang.
Naik ojek, kami menyusuri jalan aspal sempit, menuju ke kota Salatiga. Angin dingin mengantar kami pergi meninggalkan lereng yang dipenuhi pohon cengkeh. Di pinggir jalan kami masih melihat seorang ibu sedang memecah batu-batu gunung menjadi bongkahan lebih kecil. Agak berapa lama baru kami berjumpa dengan perkampungan penduduk. Ahai, iri juga melihat mereka bisa setiap hari menikmati udara bersih, jauh dari polusi, jauh dari macet, jauh dari orang yang ugal-ugalan dan saling maki di tengah jalan…
Di Terminal Tingkir, kami melanjutkan perjalanan ke Semarang, meninggalkan sekeping surga di belakang kami.
Pekanbaru, 10 Januari 2011, Agnes Bemoe & Ch. Mulyani
Langganan:
Postingan (Atom)




