Saat Hidup tidak lagi bersahabat dengan kita... Tetap lah "pegang erat Tangan Tuhan" Jangan pernah kau berpaling dari NYA, sebab TUHAN lah sumber pertolongan kita kemarin, hari ini , besok dan untuk selama-lama nya...
Tampilkan postingan dengan label keranjang rotan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keranjang rotan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 September 2011

Serahkan Hidup Anda Pada Sang Maestro

Di depan gerbang sebuah jembatan di salah satu kota Eropa, duduklah seorang peminta-minta yang buta.
Untuk mencari nafkahnya, ia setiap hari duduk di situ sambil memainkan biolanya yang sudah usang. 
Di depannya terletak sebuah kaleng kosong dan dia mengharapkan belas kasihan dari orang-orang yang lalu lalang di depannya, dan melalui permainan biolanya, orang-orang akan memberinya sedikit uang. 
Demikianlah pengemis miskin ini melakukan kebiasaannya setiap hari.


Pada suatu hari, seorang yang berpakaian sedikit rapi dan berjubah panjang, datang menghampiri pengemis tadi dan meminta agar pengemis itu meminjamkan biola usangnya. 
Tentu saja dengan sigap pengemis itu menolak dan berkata, "Tidak!! Ini adalah hartaku yang paling mahal!!". Pendatang ini tidak putus asa, dan terus membujuk si pengemis agar mau meminjamkannya biola tersebut hanya untuk sebuah lagu. 
Akhirnya muncul rasa kepercayaan pada pengemis buta itu, dan dengan perlahan ia memberikan biola tuanya kepada pendatang tersebut.


Pendatang tersebut mengambil biola tua itu dan mulai memainkan sebuah lagu dengan begitu merdu.
Suara biola yang begitu halus di tangan si pendatang membuat orang yang lalu lalang berhenti dan mereka mulai berkeliling mengelilingi si pendatang dan pengemis tersebut. Begitu merdunya lagu dan bagusnya permainan biola si pendatang tersebut membuat semua orang terdiam, dan si pengemis buta ternganga tanpa dapat berkata-kata. Kaleng yang tadinya kosong kini telah penuh dengan uang, dan lagu demi lagu telah dimainkan oleh si pendatang tersebut. Akhirnya ia pun harus mengakhiri permainannya, dan sambil mengucapkan terima kasih, ia mengembalikan biola tersebut kepada si pengemis. Si pengemis sambil berurai air mata, dan dengan gemetar bertanya: "Siapakah anda orang budiman?". Si pendatang tersenyum dan dengan perlahan menyebutkan namanya, "Paganini".


Semua orang terdiam. Seorang maestro biola yang bernama Paganini, telah memberikan banyak berkat kepada sang pengemis yang telah memberikan harta kesayangannya untuk dipergunakan oleh sang maestro, betapa menakjubkan!


Ada sebuah jaminan berkat bagi siapa saja yang mau menyerahkan tenaganya, hartanya, talentanya, kepada sang 'Maestro' kita yaitu Yesus Kristus.
 
email from : mommy Lita Gunardi ,
Rabu, 27 Oktober, 2010 08:29
 
 

Ibu Bijak, Anak Bahagia

Firman: Amsal 14:1 & 31: 26-31 Penulis Amsal menyatakan “Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri” (Ams 14:1). Ini adalah gambaran peran seorang wanita yang mampu mendirikan dan juga yang mampu meruntuhkan dengan kekuatannya sendiri. Pilihan ada ditangan seorang wanita atau ibu rumah tangga! Memilih bijak (berhikmat) atau bodoh (tidak berhikmat). Dinyatakan “istri yang cakap” (Ams 31:1) (Engl: noble character), yang memiliki karakter yang indah, bijaksana dan berhikmat, “Anak-anaknya bangun dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia” (ay 28). Mari kita perhatikan apa yang dilakukannya, ibu bijak!. 1. Berkata-kata dengan hikmat ”Ia membuka mulutnya dengan hikmat” (ay 26a) Bukan asal tetapi pertimbangkan apakah yang dikatakan itu betul, baik dan berguna. “Dengan hikmat”, “hikmat yang dari atas” (Yak 3:17), benar dan tepat, bukan untuk menghancurkan tetapi untuk membangun. Rasul Paulus berkata “pakailah perkataan yang baik untuk membangun….” (Ef 4:29). Pemazmur berkata “Awasilah mulutku ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku” (Maz 141:3). Banyak perkataan yang indah yang dapat kita katakan diantaranya yang menghargai, yang positif dan yang memuji. Rasul Yakobus mengingatkan “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah…” (Yak 1:5). 2. Mengajar dengan lemah lembut “Pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya” (ay 26b). Lemah lembut (Engl: kindness) adalah salah satu gambaran sifat kewanitaan. Panggilan wanita untuk mengajarkan kebenaran seperti yang dilakukan nenek dan ibu Timotius, Lois dan Eunike, yang meletakan dasar iman dalam kehidupan Timotius “sejak kecil” (2 Tim 3:15) sehingga Timotius menjadi seorang “yang setia dalam Tuhan” (1 Kor 4:17). Wanita juga dipanggil untuk mengajar dan menjadi teladan di dalam hal “mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang” (Tit 2: 4-5). Itu kehendakNya dan harus dilakukan agar Firman tidak dicemoh oleh dunia karena pelaku Firman akan menjadi saksi di dalam memiliki rumah tangga bahagia. 3. Rajin mengatur rumah tangga. “Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya” (ay 27) Julukan seorang ibu atau istri adalah ibu rumah tangga yang akan mengatur dan melengkapi rumah tangga sehingga menjadi tempat yang nyaman dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Dikatakan “ia mendatangkan makanannya. Ia bangun kalau masih malam lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan” (Ams 31:15). Semua dilakukannya dengan keberanian berkorban untuk anak-anak dan suaminya tanpa ada kemalasan tetapi rajin dan bersuka cita. Inilah ibu teladan yang patut “dipuji-puji ….biarlah perbuatannya memuji dia” (ay 30-31) dan kita yang menjadi anak dari seorang ibu, Firman berkata “Hormatilah ayahmu dan ibumu…supaya kamu bahagia dan panjang umur” (Ef 6: 2-3).

Sabtu, 10 September 2011

Surat Dari Tuhan

KEPADA : KAMU
TANGGAL : HARI INI
DARI : TUHAN
PERIHAL : DIRI KAMU
Referensi : KEHIDUPAN

Aku Tuhan, hari ini Aku yang akan menangani semua masalahmu.
Aku tidak butuh bantuanmu.
Jadi, salam sejahtera dan Aku mencintaimu selalu.



Catatan : Dan ingat…

Bila dunia ini menyodorkan masalah yang tidak dapat kau tangani sendiri, jangan berusaha menyelesaikan masalah itu. Tetapi, letakkanlah masalah itu di kotak UNDIOLTU (Untuk Diselesaikan Oleh Tuhan).
Aku akan menyelesaikan masalahmu sesuai JADWAL yang Aku tentukan sendiri.
Semua masalahmu PASTI akan Aku selesaikan, tetapi sesuai jadwal Ku,bukan jadwal mu.





Setelah semua masalahmu kamu letakkan dalam box, janganlah kamu pikirkan dan khawatirkan. Sebaliknya, fokuslah kepada semua hal-hal baik yang sedang terjadi padamu sekarang.


Bila kamu terjebak kemacetan dijalan, janganlah marah, sebab masih banyak orang didunia ini yang tidak pernah naik mobil seumur hidupnya.



Bila kamu berhadapan dengan masalah di tempat kerja, berpikirlah bahwa masih banyak orang yang menganggur bertahun-tahun tanpa pekerjaan.



Bila kamu sedih karena hubungan keluarga, pikirkanlah orang-orang yang belum pernah merasakan mencintai dan dicintai.


Bila kamu merasa bosan dengan akhir minggu, pikirkanlah orang-orang yang harus lembur siang malam tanpa libur untuk menghidupi keluarga & anak-anaknya.


Bila mobil kamu mogok & mengharuskan kamu berjalan kaki, janganlah marah, pikirkanlah orang-orang cacat yang sangat ingin merasakan berjalan diatas kaki sendiri seperti kamu sekarang..



Bila kamu melihat dicermin rambutmu mulai beruban, janganlah bersedih, sebab mempunyai rambut hanyalah merupakan impian bagi orang-orang yang dalam perawatan kemoterapi.



Bila kamu merenungi makna hidupmu didunia ini dan merenungi apa tujuan hidupmu ini?
Bersyukurlah, karena banyak orang yang tidak punya kesempatan hidup yang cukup lama untuk merenungi hidup mereka.




Bila kamu merasa tidak nyaman karena terkena imbas dari kemarahan dan kekecewaan orang lain, ingatlah, situasi bisa menjadi jauh lebih buruk; yaitu kamulah yang merasakan kemarahan dan kekecewaan tersebut!



Bila kamu memutuskan untuk meneruskan surat ini ke orang lain, terima kasih. Kamu telah menyentuh kehidupan mereka dalam banyak hal yang tidak pernah kamu bayangkan!


Salam sejahtera selalu,
TUHAN




God has seen you struggling,
God says it's over.

Tuhan Yesus Sahabatku

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur, Filipina, yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah yang berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.

Setiap kali berhasil menyebrangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja tiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan, sahabatnya.
Tindakannya ini selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.

“Bagaimana kabarmu, Andy? Apakah kamu akan ke Sekolah?”

“Ya, Bapa Pendeta!” balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.

Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, “Jangan menyebrang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah, kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat.”

“Terima kasih, Bapa Pendeta.”

“Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah pulang sekolah?”

“Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan.. sahabatku.”

Dan Pendeta tersebut meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya di depan altar berbicara sendiri, tetapi pastur tersebut bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.

“Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku.
Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanya kue ini.
Terima kasih buat kue ini, Tuhan! Tadi aku melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku jadi tidak begitu lapar.
Lihat ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan.Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa.. paling tidak aku tetap dapat pergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa dari temanku sudah berhenti sekolah, tolong Bantu mereka supaya bisa bersekolah lagi.
Tolong Tuhan.

Oh, ya..Engkau tahu kalau Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu.

Tuhan, Engkau mau lihat lukaku??? Aku tahu Engkau dapat menyembuhkannya, disini..disini.aku rasa Engkau tahu yang ini kan ….??? Tolong jangan marahi ibuku, ya..?? dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makan dan biaya sekolahku..itulah mengapa dia memukul aku.

Oh, Tuhan..aku rasa, aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang sangat cantik dikelasku, namanya Anita. menurut Engkau, apakah dia akan menyukaiku??? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku.

Hei.ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira??? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini kejutan bagiMu.
Aku berharap Engkau menyukainya. Oooops..aku harus pergi sekarang.”

Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta .

“Bapa Pendeta..Bapa Pendeta..aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyebrang jalan sekarang!”

Kegiatan tersebut berlangsung setiaphari, Andy tidak pernah absen sekalipun.

Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Tuhan.. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.

Pada hari Natal , Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja tersebut diserahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga mengutuki orang yang menyinggung mereka.

Ketika mereka sedang berdoa, Andypun tiba di Gereja tersebut usai menghadiri pesta Natal di sekolahnya, dan menyapa “Halo Tuhan..Aku..”

“Kurang ajar kamu, bocah!!!tidakkah kamu lihat kalau kami sedang berdoa???!!! Keluar, kamu!!!!!”

Andy begitu terkejut,”Dimana Bapa Pendeta Agaton..??Seharusnya dia membantuku menyeberangi jalan raya. dia selalu menyuruhku untuk mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus, karena hari ini hari ulang tahunNya, akupun punya hadiah untukNya..”

Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja.

“Keluar kamu, bocah!..kamu akan mendapatkannya!!!”

Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyebrangi jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja. Lalu dia menyeberang, tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang – disitu ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut didalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar.dan Andypun tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tidak bernyawa lagi.

Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut, namun dengan penuh airmata dating dan memeluk bocah malang tersebut. Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya,”Maaf tuan..apakah anda keluarga dari bocah yang malang ini? Apakah anda mengenalnya?”

Tetapi pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam berkata,”Dia adalah sahabatku.” Hanya itulah yang dikatakan.

Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam saku baju bocah malang tersebut dan menaruhnya didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah tersebut, kemudian keduanya menghilang. Orang-orang yang ada disekitar tersebut semakin penasaran dan takjub..

Di malam Natal , Pendeta Agaton menerima berita yang sangat mengejutkan.

Diapun berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dengan kedua orang tua Andy.

“Bagaimana anda mengetahui putra anda telah meninggal?”

“Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari.” Ucap ibu Andy terisak.

“Apa katanya?”

Ayah Andy berkata,”Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy, sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy dari wajahnya dan memberikan kecupan dikeningnya, kemudian Dia membisikkan sesuatu.

“Apa yang dikatakan?”

“Dia berkata kepada putraku..” Ujar sang Ayah. “Terima kasih buat kadonya.
Aku akan berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku.”
Dan sang ayah melanjutkan, “Anda tahu kemudian semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis tapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu.aku menangis karena bahagia..aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika dia meninggalkan kami, ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku.. Aku tidak dapat melukiskan suka cita dalam hatiku. aku tahu, putraku sudah berada di Surga sekarang.
Tapi tolong Bapa Pendeta .. Siapakah pria ini yang selalu bicara dengan putraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu di sana setiap hari, kecuali pada saat putraku meninggal.

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik,”Dia tidak berbicara kepada siapa-siapa… kecuali dengan Tuhan.”


Email from : mommy Lita Gunardi , Jumat, 11 Februari, 2011 23:58

Jumat, 09 September 2011

Allah Menyelesaikan Segala Perkara dan Kasih-Nya Menyembuhkan

Namaku Novita dan aku adalah ibu dari putra kembar yang kini berusia 9 tahun. Aku mengikuti retret awal di tahun 2006 dan retret penyembuhan batin kemarin ini, April 2009. Yang ingin aku bagikan disini adalah bagaimana Yesus berbicara padaku, menyelesaikan perkaraku satu persatu dan menjawab doa-doaku dengan caraNYA sendiri. Aku menikah di tahun 1999 dan ketika aku hamil 7 bulan, suamiku meninggalkan Kristus untuk menikahi kekasihnya. Aku mengetahui hal tersebut ketika anak-anak baru dilahirkan dan berusia satu bulan. Setelah melalui satu proses yang tidak mudah, suamiku menceraikan istri keduanya dan kembali kepada kami. Namun masalah tidak berhenti di situ. Sejak saat itu aku kerap menerima tindak kekerasan baik fisik maupun mental dari suami aku, mulai dari dicemooh, dilempar sisir, diludahi sampai dipukuli. Dia pun tak berhenti berpindah dari satu perempuan ke perempuan lain dan ada beberapa dari mereka yang dibawa ke rumah. Semuanya aku simpan sendiri. Baik orang tua maupun teman tidak ada yang tahu. Kalau aku ke kantor dengan wajah lebam dan ada teman yang bertanya, aku katakan bahwa aku secara tidak sengaja kejeduk kepalanya anak-anak, dan banyak alasan yang lain.



Satu malam, ketika aku menemukan kartu penuh ucapan cinta untuk suami aku dari salah satu wanitanya, sambil menangis aku berkata pada diri sendiri, “Aku merasa sangat sendirian.” Di saat itu, terdengar dengan jelas suara yang lembut yang dengan penuh iman aku yakini, itu adalah Yesus yang berbicara padaku. Dia mengatakan, “Kamu tidak sendiri, ada Aku bersamamu.” Begitu aku sadar, aku menangis sejadi-jadinya. Betapa bodohnya aku yang berpikir bahwa aku seorang diri.



Di malam yang lain di saat aku sudah tidak tahan akan beban yang begitu berat, aku memutuskan untuk bunuh diri. Aku pikir dengan bunuh diri, masalah aku selesai. Sambil menimbang-nimbang apakah aku mau gantung diri, potong urat nadi atau minum obat nyamuk, aku pikir aku berdoa dulu saja, mau minta supaya Tuhan cepat-cepat ambil nyawaku. Akupun berdoa dan bilang “Tuhan, aku titip anak-anak. Tolong supaya Engkau cepat-cepat mengambil nyawaku, aku sudah tidak kuat.” Untuk kedua kalinya, Yesus menyapaku yang aku dengar dengan jelas, kataNYA, “Hidupmu adalah anugrah terbesar dariKU, mengapa ingin kau sia-siakan.” Mendengar itu, aku sadar dan menangis meminta ampun dari Tuhan.



Aku ikut retret awal karena aku kuatir bahwa aku menjadi agak tidak waras. Sebelum aku ikut retret, aku tidak mengerti mengapa di tengah penderitaan hidup, ketika aku berdoa aku bisa berkata, “Terima kasih Tuhan karena aku boleh ikut merasakan sedikit dari penderitaanMU waktu Engkau memikul salib.” Waktu itu aku berpikir aku mulai gila dengan berdoa seperti itu. Kini aku mengerti bahwa salib bisa membawa sukacita dan Roh Kudus membimbing kita ketika kita menyerahkan diri pada Tuhan saat kita berdoa. Di retret awal, aku mendapat banyak sekali pengalaman iman yang begitu indah. Setiap aku menutup mata, aku bisa membayangkan Yesus dengan jubah putihnya yang berkilau membuka tanganNYA untukku. Ada saat di mana aku melihat Yesus yang mengulurkan tanganNYA ke aku. Dan satu pesan yang aku dapat dan ingat waktu aku konseling adalah: jangan sombong dihadapan Tuhan. Keselamatan menurut Tuhan tidak sama dengan keselamatan menurut ibu.



Pulang dari retret awal, masalah memang tidak selesai bahkan aku dibawa pada titik kepasrahan yang terendah dalam hidupku. Anak-anakku dibawa pergi dan disembunyikan oleh suamiku selama hampir 4 bulan. Mereka hilang bagai ditelan bumi. Keluarga suami tidak ada yang mau membantu. Aku berdoa, mohon supaya Tuhan segera mengembalikan anak-anak. Setiap malam aku mohon itu dari Tuhan tapi entah mengapa rasanya doaku seolah tidak terangkat. Aku pun marah sama Tuhan dan berhenti berdoa selama dua hari. Kemudian satu hari, aku terbangun pukul tiga pagi. Aku keluar kamar, duduk di ruang tamu dan berdoa. Aku cuma bisa berkata, “Tuhan, kalau boleh, ijinkan aku mengasuh dan membesarkan kedua buah hatiku, tapi Tuhan, kehendakMUlah yang terjadi.” Tiga hari aku ucapkan doa itu, kemudian aku dipertemukan dengan anak-anak.



Saat ini setelah suamiku melakukan tindak kekerasan yang menyebabkan salah satu tulang rusuk bagian depanku bergeser dan pada akhirnya ia memilih untuk hidup dengan salah satu wanitanya yang lain, aku pun berkonsultasi dengan pastor di Keuskupan Agung Jakarta dan kami berpisah. Aku membesarkan anak-anak sendiri. Dalam doa aku sering meminta kepada Yesus supaya DIA memampukan aku untuk membesarkan kedua buah hatiku dengan sabar, bijaksana dan penuh kasih. DIA menjawab doaku dengan mengundangku ke retret penyembuhan batin. DIA mengundangku karena DIA mau menyembuhkan luka-luka batinku supaya aku tidak menorehkan luka pada anak-anakku. Luka bisa berbuah luka dan Yesus yang begitu besar cintaNYA padaku dan anak-anakku, tidak menginginkan hal itu terjadi. DIA mau menyembuhkanku. Itulah jawabanNYA atas doaku.



Di dalam retret, aku dibawa pada kesadaran akan cinta Tuhan. Namun aku pun diingatkan kembali akan semua luka dan sakit hati yang kualami dan rasanya memang sakiiittttt sekali. Semua pengkhianatan suamiku dan tindak kekerasan yang aku terima baik fisik maupun mental diputar kembali dibenakku. Aku meminta supaya Yesus mau mengambil semua rasa sakit itu dan semua luka-lukaku. Dan DIA menjawab permohonanku. Bahkan diluar dugaan, ketika pembasuhan kaki, ada seorang figur yang wajahnya mirip dengan suamiku dan ada yang mirip dengan wanita yang kini hidup dengannya. Aku pun membasuh kaki mereka. Karena rahmat Tuhan dan kemurahan kasihNYA, aku pun bisa mengampuni suamiku dan wanita yang kini hidup dengannya. Dan itu sungguh amat melegakan.



Yesusku menyembuhkanku. Dengan kesembuhanku, aku dimampukan untuk membesarkan kedua anakku dengan penuh kasih dan tidak menorehkan luka pada mereka. DIA yang mengerti kebutuhanku dan DIA yang menjawab semua doa-doaku dengan caraNYA sendiri. Satu ayat Kitab Suci yang selalu kuingat: ‘Serahkanlah hidupmu pada Tuhan dan percayalah kepadaNYA, dan DIA akan bertindak’ (Mazmur 37:5)





Kesaksian ditulis oleh Novita Patricia



Sumber: http://www.carmelia.net



oleh Hidup Baru pada 08 September 2011 jam 19:03

Renungan Kecil

RENUNGAN Jumat, 9 September 2011
“Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”
Ya Yesus, Engkau tidak berkenan dengan orang yang munafik. Hindarkanlah hidupku dari kemunafikan. Amin.


Terkadang Anda hanya perlu duduk kembali dan menyampaikan semuanya pada Tuhan,
untuk menghadapi semua keruwetan dalam hidup.
Menemukan ketenangan lagi dan mengetahui bahwa pada saat-Nya semua akan menjadi sebagaimana yang telah Ia rencanakan. Anda tidak dapat mengubahnya, tetapi Anda dapat mengubah tingkat stres yang Anda rasakan (PS)

Hidup Baru, 09.09.2011

Re La Si

Di saat senang maupun sedih, kita dapat selalu menelepon Tuhan.
No telp yang dapat dihubungi adalah 267. 2 6 7 = re la si.
Relasi kita dengan Tuhan akan semakin dekat kalau kita setia untuk berbincang selalu dengannya dalam doa. (YN)

Hidup Baru , 09.09.2011

Senin, 05 September 2011

St. Filipus Neri

St. Filipus Neri tidak tahan melihat seseorang berwajah murung. Jika sampai ia melihat seseorang dengan muka masam, maka ia akan dengan senang hati menamparnya - dan jika orang itu protes, ia akan menjelaskan bahwa bukan dia yang melakukannya, tetapi setan!

Filipus Neri dilahirkan pada tanggal 22 Juli 1515 di Florence, Italia. Ayahnya, Fransiskus Neri, bekerja sebagai seorang notaris. Ia termasuk golongan bangsawan, tetapi keluarganya sendiri hidup miskin.

Filipus kecil suka sekali berkelakar! Bagi teman-temannya, sentuhan tangan Filipus atau bahkan kehadirannya saja sudah cukup untuk menyembuhkan hati siapa saja yang sedang berduka. Filipus kecil juga suka bertindak seturut kata hatinya. Karena kelakuannya itu hampir saja sebuah kecelakaan merenggut nyawanya. Filipus melihat seekor keledai beban dengan gerobaknya yang sarat dengan buah-buahan; tiba-tiba saja ia meloncat naik ke atas punggung keledai. Keledai yang terkejut itu kehilangan keseimbangannya dan terpeleset. Sedetik kemudian, keledai, gerobak dan buah-buah muatannya serta Filipus jatuh terguling-guling ke gudang bawah tanah dengan Filipus tertindih keledai dan gerobak!

Pada tahun 1533, ketika usianya delapan belas tahun Filipus dikirim ke San Germano, kepada seorang sanak, untuk belajar berdagang. Tetapi tidak ada sama sekali minatnya dalam berdagang. Ia malahan lebih sering menggunakan waktunya untuk berdoa di sebuah kapel di atas bukit. Filipus memperoleh nubuat dalam suatu penglihatan bahwa ia mendapat panggilan merasul di Roma, jadi ia meninggalkan keluarganya dan pindah ke Roma.

Di Roma, Filipus belajar Filsafat dan Teologi selama tiga tahun, sebelum akhirnya memutuskan untuk hidup layaknya seorang pertapa. Suatu ketika, sedang Filipus berdoa di Katakomba St. Sebastianus di jalan Appian Way, sebuah bola api masuk ke dalam hatinya. Pengalaman mistik ini memberinya kekuatan yang luar biasa hingga ia mulai mewartakan Tuhan dengan penuh semangat kepada semua orang.

Pada tahun 1548, Filipus membentuk kelompok Persaudaraan Tritunggal Maha Kudus. Kelompok tersebut beranggotakan kaum awam yang menawarkan bantuan bagi para peziarah yang datang ke Roma. Organisasi ini berjalan baik dan kelak menjadi rumah sakit Santa Trinita dei Pellegrini yang terkenal di Roma.

Karena merasakan panggilan yang kuat untuk menjadi imam, Filipus masuk biara dan pada tahun 1551 ditahbiskan menjadi seorang imam. Kemudian Rm Neri ditugaskan di gereja San Girolamo.

Bagi umatnya, Rm Neri adalah seorang imam yang spontan, tak dapat ditebak, menyenangkan serta penuh humor. Semua orang kudus selalu penuh pengharapan dan sukacita, tetapi pada Neri pengharapan dan sukacita itu tampak lebih nyata. Ia selalu melihat sisi baik dari semua peristiwa, baik peristiwa gembira maupun sedih yang dialaminya. Lelucon-leluconnya, biasanya idenya sendiri, selalu dikenang.

Demi pertumbuhan rohani umatnya, Rm Neri senantiasa menyediakan waktu bagi siapa saja dan kapan saja. Ia memperhatikan mereka dan memberikan dukungan serta nasehat menurut kepentingan mereka masing-masing. Nasehat-nasehatnya itu membawa dampak yang besar sehingga berguna bagi perkembangan gereja secara menyeluruh. Rm Neri amat popular sebagai seorang bapa pengakuan sebab ia pandai membaca hati orang dan memberikan penitensi yang membantu mereka berbalik dari dosa-dosa mereka. Ia membantu umatnya mengatasi kelemahan-kelemahan mereka dengan membuat mereka tertawa!

Sukacita Rm. Neri segera memikat hati umatnya, terutama kaum muda. Ia mengadakan kegiatan-kegiatan untuk membimbing hidup kerohanian mereka: doa, Misa, diskusi, pendalaman iman, paduan suara, dsbnya. Ia mengadakan prosesi kunjungan ke Tujuh Gereja di Roma dengan perhentian-perhentian di masing-masing gereja untuk berdoa, devosi, menyanyi, menari dan berpiknik (piknik yang dihadiri oleh ± 6000 orang)! Jumlah kaum muda yang bergabung semakin lama semakin banyak, di antara mereka banyak pula yang kemudian tertarik untuk menjadi imam, hingga pada akhirnya terbentuklah Konggregasi Oratorian. Nama Oratorian dipilih karena mereka biasa berkumpul secara teratur di sebuah ruang kecil yang disebut oratory (“ora” adalah bahasa Latin yang berarti “berdoa”; oratory artinya tempat doa). Rm Neri dan Oratorian segera menjadi pusat kehidupan beriman di Roma.

Beberapa penguasa gereja yang iri kepada Rm Neri merasa terancam dengan berkembangnya gerakan Oratorian. Oleh karena itu Rm Neri diperintahkan untuk menghentikan segala kegiatan Oratorian. Rm Neri tentu saja kecewa, tetapi ia menghadapi semua rintangan itu dengan humor, kerendahan hati dan ketaatan. Akhirnya, pada tahun 1575, Paus Gregorius XIII merestui Konggregasi Oratorian dan mengijinkannya untuk melakukan segala kegiatannya kembali. Mereka bahkan dihadiahi gereja Santa Maria dari Vallicella, tetapi lebih dikenal hingga sekarang sebagai “Chiesa Nuova” (artinya gereja baru). Pada hari mereka memasuki gereja baru mereka pada tahun 1577, para Oratorian melakukan arak-arakan di kota dengan membawa serta segala tetak-bengek peralatan rumah tangga mereka (sendok, mangkuk, kursi yang seluruhnya terbuat dari kayu). Di barisan depan parade yang aneh ini tampaklah Rm Neri, berarak sambil menendang-nendang bola sepak.

Rm Neri memahami betapa pentingnya berbicara dengan bijaksana. Suatu hari seseorang datang kepadanya. Orang itu mempunyai masalah tidak dapat menghentikan kebiasaan buruknya yaitu bergosip dan menceritakan keburukan-keburukan orang lain. Rm Neri menyuruhnya naik ke atap rumah dengan satu tas besar penuh dengan bulu burung. Kemudian Romo memintanya untuk membuka tas serta menggoncang-goncangkan tas tersebut agar bulu-bulu itu dapat keluar semuanya. Baru saja ia melakukannya, maka angin segera meniup bulu-bulu itu dan membawanya terbang hingga jauh menyebar ke seluruh penjuru kota. Sesudahnya, Rm Neri memintanya untuk pergi mengumpulkan setiap bulu yang telah terbang terbawa angin. Orang itu memandang Rm Neri dengan terkejut dan gugup. Rm Neri berkata, “Kata-kata yang jahat sama seperti bulu-bulu itu. Begitu keluar dari tas, mereka menyebar ke segala penjuru kota dan tidak pernah bisa ditarik kembali!”

Suatu hari seorang anak muda yang dibimbingnya datang kepada Rm Neri dan bertanya apakah ia diperkenankan mengenakan baju kasar (dalam upacara kuno wajib dikenakan oleh pendosa berat yang belum diampuni dosanya oleh gereja). Rm Neri menyadari bahwa kegiatan yang tampak seperti “laku silih” pun dapat menjadi sumber kesombongan, padahal Rm Neri senantiasa menjauhi sikap bangga dan tinggi hati. Oleh karenanya Rm Neri memberinya ijin dengan syarat bahwa baju kasar tersebut harus dikenakan di luar kemejanya! Dengan demikian baju kasar tersebut bukan saja menyebabkan ketidaknyamanan di tubuhnya tetapi juga menyebabkannya diperolok dan ditertawakan orang-orang di sekitarnya. Kisah ini menjadi terkenal, karena kelak di kemudian hari, pemuda itu menyatakan dengan penuh syukur bahwa “laku silih” yang dianjurkan Rm Neri mengajarkan kepadanya arti sebenarnya dari penderitaan dan dengan demikian mengubah hidupnya.

Seorang pemuda bangsawan jatuh sakit dan mendadak meninggal. Ibunya sangat sedih, sebab puteranya belum menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit serta Sakramen Pengakuan Dosa. Ia memohon agar Rm Neri berdoa bagi puteranya. Rm Neri mendekati jenasah pemuda itu dan memegang tangannya seraya berkata, "Paulo, Paulo!" Maka pemuda itu pun bangun dan hidup kembali selama setengah jam sehingga dapat menerima kedua sakramen yang amat diperlukan bagi perjalanannya menuju surga.

Tuhan melakukan banyak mukjizat-Nya melalui Rm Neri. Namun demikian yang ingin dilakukan Rm Neri hanyalah membawa sebanyak-banyaknya orang kepada Yesus. Oleh karena itulah, guna menghindari rasa kagum umatnya, Rm Neri seringkali berlagak tolol. Ia mengenakan pakaian yang modelnya menggelikan atau pernah suatu ketika ia mencukur separuh janggutnya sebelum pergi ke suatu pesta perjamuan yang diselenggarakan khusus untuk menghormatinya. Atau, ketika para tamu dari Polandia datang untuk bertemu dengan orang kudus yang amat popular ini, mereka malahan mendapatkan Rm Neri sedang duduk mendengarkan seorang imam lain membacakan lelucon dari buku-buku humor. Rm Neri ingin orang lain menertawakannya dan dengan segera lupa bahwa ia adalah seorang kudus.

Kepada para pengikutnya Rm Neri sering berkata, “Bersukacitalah senantiasa, karena sukacita adalah jalan untuk berkembang dalam kebajikan.” Meskipun Rm Neri seorang yang penuh humor, tetapi ia sangat serius dalam kehidupan doanya. Rm Neri mudah sekali mengalami `ekstase' (keadaan orang yang sedang terpengaruh Roh Kudus, sehingga berbuat sesuatu yang luar biasa); berjam-jam dalam sehari dihabiskannya untuk berdoa. Jika seseorang bertanya bagaimana caranya berdoa, Rm Neri akan menjawab, “Rendah hati serta taat, maka Roh Kudus akan membimbingmu.”

Pada tanggal 26 Mei 1595, setelah menderita sakit cukup lama, Rm Neri meninggal dunia dalam usia delapan puluh tahun. Ia dimakamkan di Chiesa Nuova. Seluruh kota Roma berduka. Namun, sekarang kota Roma tampak amat berbeda dibandingkan 60 tahun sebelumnya. Ada iman yang tumbuh dari kota tersebut yang segera menyebar dan mempengaruhi umat Katolik di seluruh dunia. Sebagai ungkapan syukur, Paus menyatakan Rm Filipus Neri sebagai Rasul kota Roma yang kedua sesudah Santo Petrus.

Rm Filipus Neri dibeatifikasi pada tahun 1615 oleh Paus Paulus V dan dikanonisasi pada tahun 1622 oleh Paus Gregorius XV. Pesta St Filipus Neri dirayakan setiap tanggal 26 Mei.


FILIPUS DAN BOLA API
Filipus memiliki semangat doa yang luar biasa. Tidak peduli di mana pun ia berada, ia dapat dengan mudah berkomunikasi dengan Tuhan - bahkan dikatakan bahwa hatinya seolah-olah siap meledak karena cintanya yang meluap-luap kepada Tritunggal Maha Kudus! Pernyataan tersebut memang tidak berlebihan karena didasarkan pada suatu kejadian yang amat menakjubkan:

Pada tahun 1544, menjelang Hari Raya Pentakosta, Filipus sedang berlutut dan berdoa memohon Karunia-karunia Roh Kudus di Katakomba St Sebastianus. Tiba-tiba sebuah bola api muncul dan secepat kilat masuk ke dalam mulutnya, lalu meluncur ke dalam hatinya. Filipus merasakan hatinya membesar, tetapi ia sendiri tidak merasa sakit. Sejak itu, setiap kali Filipus mengalami suatu peristiwa mistik (persatuan dengan Tuhan secara mendalam), maka hatinya akan berdebar kencang menyebabkan seluruh tubuhnya bergetar. Di saat-saat seperti itu Filipus akan memohon kepada Tuhan untuk menenangkan hasratnya atau membawanya pulang ke surga. Kadang kala dada Filipus menjadi demikian panas terbakar sehingga ia harus melemparkan dirinya ke dalam salju.

Sesudah Filipus wafat pada tahun 1595, para dokter membedah dadanya. Hati orang kudus itu sedemikian besarnya hingga dua tulang rusuk di atasnya patah dan menonjol keluar. Namun demikian para dokter tidak menemukan adanya tanda-tanda suatu penyakit.

Seluruh kota Roma menghormati Filipus, kita pun juga. Dengan teladan St. Filipus Neri kita semua disadarkan bahwa masing-masing dari kita dipanggil bukan saja untuk menjadi kudus, tetapi juga untuk senantiasa penuh sukacita.

"Santo Filipus Neri, kami bertindak terlalu serius hampir sepanjang waktu. Bantulah kami untuk menambahkan humor dalam pikiran kami - karena humor adalah juga karunia dari Tuhan."

“disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan




oleh Hidup Baru pada 25 Mei 2011 jam 16:51

Terima Kasih

Lepaskan bebanmu
Berbaringlah di tempat tidurmu dan katakan satu kalimat saja yaitu, "terima kasih".
Semua akan menjadi baik.
Terima kasih akan menjadi kata terindah dalam setiap langkah kehidupan.

Terima kasih untuk hal baik
Terima kasih untuk hal buruk
Terima kasih untuk senyuman
Terima kasih untuk tangisan
Terima kasih untuk setiap luka
Terima kasih untuk setiap cinta
Terima kasih: Kata terindah yang pernah ada di dunia.



Semoga dunia dipenuhi kata terima kasih.



Terima kasih untuk persahabatan kita.


Petrusp

oleh Hidup Baru pada 31 Mei 2011 jam 6:06

Tulus

Setiap kita pasti pernah memberikan atau melakukan seusuatu dengan tulus murni. Namun, tidak banyak yang memahaminya. Karena ketulusan bukanlah rasa, apalagi untuk dirasa-rasakan.

Ketulusan adalah rasa yang tidak terasa, sebagaimana ketika seorang teman Anda yang masuk ke tempat kerja Anda, melihat sebuah pensil yang jatuh di samping meja kerja Anda, ia langsung mengambil pensil Anda yang jatuh itu dan menyerahkannya kepada Anda tanpa banyak berkata apa-apa. Tiada setitik keberatan. Tiada setitik pun permintaan terimakasih. Tiada setitik pun rasa berjasa. Semuanya lenyap dalam ketulusan.

Sayangnya tidak mudah bagi kita untuk memandang dunia ini, sehingga selalu ada rasa keberatan atau berjasa saat kita saling berbagi dan memberi. Tulus berarti tidak berpu-pura, tidak munafik,tidak liicik, tidak bohong atau terpaksa. Ia terjadi secara spontan, wajar dan tidak dimanipulasi.



Saudari-saudariku, apa pun yg kita lakukan, dari hal yg kecil : senyuman, tatapan mata, berbicara, bertegur sapa, membantu & berkorban, semuanya menjadi begitu indah & sangat menggugah jika dilakukan dengan ketulusan.



Hari indah buatmu semua. GBU dan doaku serta



Rm YusTL pr


oleh Hidup Baru pada 31 Mei 2011 jam 20:58

Doa mohon 7 karunia Roh Kudus

Datanglah, ya, Roh Hikmat, turunlah atas diri kami, ajarlah kami menjadi orang bijak, terutama agar kami dapat menghargai, mencintai, dan mengutamakan cita-cita surgawi dan semoga kami Kau lepaskan dari belenggu dosa dunia ini.

Datanglah, ya, Roh Pengertian, turunlah atas diri kami. Terangilah budi kami, agar dapat memahami ajaran Yesus, Sang Putera, dan melaksanakannya dalam hidup sehari-hari.

Datanglah, ya, Roh Nasihat, dampingilah kami dalam perjalanan hidup yang penuh gejolak ini. Semoga kami melakukan yang baik dan menjauhi yang jahat.

Datanglah, ya, Roh Keperkasaan, kuatkanlah hambaMu yang lemah ini, agar tabah menghadapi segala kesulitan dan derita. Semoga kami Kau kuatkan dengan memegang tanganMu yang senantiasa menuntun kami.

Datanglah, ya, Roh Pengenalan akan Allah. Ajarlah kami mengetahui bahwa semua yang ada di dunia ini sifatnya sementara saja. Bimbinglah kami, agar tidak terbuai oleh kemegahan dunia. Bimbinglah kami agar dapat menggunakan hal-hal duniawi untuk kemuliaanMu.

Datanglah, ya, Roh Kesalehan, bimbinglah kami untuk terus berbakti kepadaMu. Ajarlah kami untuk menjadi orang yang tahu berterima kasih atas segala kebaikanMu dan berani menjadi teladan kesalehan bagi orang-orang di sekitar kami.

Datanglah, ya, Roh Takut akan Allah, ajarlah kami untuk takut dan tunduk kepadaMu di mana pun kami berada. Tegakkanlah kami agar selalu berusaha melakukan hal-hal yang berkenan kepadaMu.

oleh Hidup Baru pada 03 Juni 2011 jam 7:27

Belajarlah kepada-KU, karena AKU lemah lembut dan rendah hati (Mat 11:29)

Kerendahan hati selalu merupakan kesadaran manusia yang mendalam untuk bersahabat, hadir sebagai saudara-saudari bagi yang lain, dan dengan bebas mengatakan: “saya seperti semua orang lain, pribadi yang agung dan istimewa di hadapan Allah, dicintai dan diberkati Allah, dan saya berterima kasih kepadanya”. Selama keberbedaan kita menjadi pusat perhatian yang tinggi, maka kita menempatkan diri kita sendiri di jalan pembedaan dan persaingan yang berbahaya, hingga berusaha untuk saling mematikan satu dengan yang lain.



Akan tetapi ketika kita bersedia mengakui dan bahkan menghargai hubungan kita yang intim sebagai manusia dan sebagai saudara dan saudari bagi yang lain, maka kita menciptakan kehidupan yang damai, penuh sukacita dan kegembiraan. Saudara-saudariku, Jalan Yesus adalah jalan kerendahan hati. Dia memanggil kita, dengan sabdaNYA, “Belajarlah kepada-KU, karena AKU lemah lembut dan rendah hati (Mat 11:29).



GBU dan doaku serta



Rm YusTL pr


oleh Hidup Baru pada 03 Juni 2011 jam 18:56

Pendaki Gunung

Suatu ketika, ada seorang pendaki gunung yang sedang bersiap-siap melakukan perjalanan. Di punggungnya, ada ransel carrier dan beragam carabiner (pengait) yang tampak bergelantungan. Tak lupa tali-temali yang disusun melingkar di sela-sela bahunya. Pendakian kali ini cukup berat, persiapan yang dilakukan pun lebih lengkap.

Kini, di hadapannya menjulang sebuah gunung yang tinggi. Puncaknya tak terlihat, tertutup salju yang putih. Ada awan berarak-arak disekitarnya, membuat tak seorangpun tahu apa yang tersembunyi didalamnya. Mulailah pendaki muda ini melangkah, menapaki jalan-jalan bersalju yang terbentang di hadapannya. Tongkat berkait yang di sandangnya, tampak menancap setiap kali ia mengayunkan langkah.

Setelah beberapa berjam-jam berjalan, mulailah ia menghadapi dinding yang terjal. Tak mungkin baginya untuk terus melangkah. Dipersiapkannya tali temali dan pengait di punggungnya. Tebing itu terlalu curam, ia harus mendaki dengan tali temali itu. Setelah beberapa kait ditancapkan, tiba-tiba terdengar gemuruh yang datang dari atas. Astaga, ada badai salju yang datang tanpa disangka. Longsoran salju tampak deras menimpa tubuh sang pendaki. Bongkah-bongkah salju yang mengeras, terus berjatuhan disertai deru angin yang membuat tubuhnya terhempas-hempas ke arah dinding.

Badai itu terus berlangsung selama beberapa menit. Namun, untunglah tali-temali dan pengait telah menyelamatkan tubuhnya dari dinding yang curam itu. Semua perlengkapannya telah lenyap, hanya ada sebilah pisau yang ada di pinggangnya. Kini ia tampak tergantung terbalik di dinding yang terjal itu. Pandangannya kabur, karena semuanya tampak memutih. Ia tak tahu dimana ia berada.

Sang pendaki begitu cemas, lalu ia berkomat-kamit, memohon doa kepada Tuhan agar diselamatkan dari bencana ini. Mulutnya terus bergumam, berharap ada pertolongan Tuhan datang padanya.

Suasana hening setelah badai. Di tengah kepanikan itu, tampak terdengar suara dari hati kecilnya yang menyuruhnya melakukan sesuatu. "Potong tali itu.... potong tali itu."

Terdengar senyap melintasi telinganya. Sang pendaki bingung, apakah ini perintah dari Tuhan? Apakah suara ini adalah pertolongan dari Tuhan? Tapi bagaimana mungkin, memotong tali yang telah menyelamatkannya, sementara dinding ini begitu terjal? Pandanganku terhalang oleh salju ini, bagaimana aku bisa tahu? Banyak sekali pertanyaan dalam dirinya. Lama ia merenungi keputusan ini, dan ia tak mengambil keputusan apa-apa...

Beberapa minggu kemudian, seorang pendaki menemukan ada tubuh yang tergantung terbalik di sebuah dinding terjal. Tubuh itu tampak membeku,dan tampak telah meninggal karena kedinginan. Sementara itu, batas tubuh itu dengan tanah, hanya berjarak 1 meter saja.



sumber: unknown


oleh Hidup Baru pada 06 Juni 2011 jam 4:38

Pentakosta di Jantung Gereja

KEHADIRAN BARU ROH KUDUS DALAM GEREJA

Roh Kudus berkarya di seluruh dunia. Pencurahan Roh Kudus di mana-mana, suatu Pentakosta baru sedang berlangsung di seluruh Gereja. Lewat pencurahan Roh Kudus orang mengalami karya dan kuasa-Nya. Kepenuhan Roh Kudus dapat dimohon oleh setiap orang yang mendambakan dan menyiapkan diri untuk itu, bahkan juga oleh orang yang belum kristen (bdk. Kornelius, Kis 10:44).

Pencurahan Roh Kudus ini merupakan bagian dari rencana keselamatan Allah untuk Gereja dan dunia dewasa ini. Dewasa ini pencurahan Roh Kudus itu terjadi pada umumnya lewat Pembaruan Hidup dalam Roh, atau Pembaruan Karismatik. Pembaruan ini merupakan jawaban atas doa Paus Yohanes XIII yang mengundang Konsili Vatikan II dan sebagai persiapan Konsili mengajak seluruh umat untuk berdoa bagi Pembaruan seluruh Gereja: “Perbaruilah ya Tuhan, Gereja-Mu saat ini sebagai suatu Pentakosta Baru.” Sebagai jawaban atas doa itu Tuhan mulai mencurahkan Roh-Nya secara berlimpah ke dalam Gereja. Dan Pembaruan Karismatik yang lahir pada tahun 1965-1967, itu merupakan bagian dari rahmat Pembaruan itu.

Mula-mula rahmat dan karunia-karunia Roh Kudus dialami dalam Persekutuan Doa dan Komunitas Karismatik, namun Roh Kudus tidak dimaksudkan hanya untuk Persekutuan Doa atau Pembaruan Karismatik saja, melainkan untuk seluruh Gereja. Pembaruan Karismatik bukanlah suatu organisasi, tetapi pencurahan istimewa rahmat Roh Kudus; bukan organisasi, tetapi mengalirnya rahmat baru yang istimewa. Pada dasarnya, merupakan rahmat baru untuk memperbaharui dan mengubah cara berpikir dan cara kerja Gereja, rahmat yang membawa pengertian dan kesadaran baru yang menekankan, bahwa manusia bukanlah pelaksana hakiki tugas Gereja. Dari sikap: Tuhan, aku mau melakukan ini dan itu untukmu, berubah menjadi: “Roh Allah, pakailah aku seturut kehendak-Mu.” Perubahan sikap yang mendasar ini telah mengalirkan kuasa Allah yang besar dalam Gereja.

Pencurahan Roh Kudus itu merupakan revitalisasi doa: ‘Veni Creator Spiritus- Datanglah ya Roh Pencipta.’ Pencurahan Roh Kudus itu telah menimbulkan suatu cara berpikir dan bekerja yang baru, yang tidak lagi berpusat pada kemampuan manusia dan prakarsa manusiawi, melainkan bertolak dari rencana Allah. Hal itu membutuhkan langkah-langkah berikut:

Pertama-tama kita membutuhkan discernment untuk mengetahui apa rencana dan kehendak Tuhan untuk kita.
Mengenali semua karunia evangelis dan apostolik dan setiap karunia pelayanan sebagai karunia Roh Kudus.
Menyadari bahwa hanya Roh Kudus saja yang dapat berbicara kepada hati manusia dan memampukan untuk mendengar sabda Allah.
Menyadari bahwa Roh Kudus adalah kuasa Allah, kuasa yang harus berkarya melalui kita dewasa ini, bahkan dengan tanda-tanda dan mukjizat, untuk meluaskan Kerajaan Allah di dunia ini dan dalam perjuangan kita melawan si jahat.
Menyerahkan diri kepada Roh Kudus supaya dapat dipakai sebagai alat-Nya serta melakukan segala sesuatu hanya untuk kemuliaan Allah saja.

Tujuan dari Pembaruan itu bukanlah untuk mencari karunia-karunia Roh Kudus (1 Kor 12:7-12) demi karunia itu sendiri, tetapi suatu penyadaran, bahwa karya Allah hanya dapat dilakukan oleh Allah sendiri lewat karunia-karunia Roh Kudus yang diberikan kepada kita. Dalam hal ini, Allahlah pelaku utama karya tersebut. Jadi kita memang memerlukan karunia-karunia itu, tetapi bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai senjata dalam perjuangan kita untuk meluaskan Kerajaan Allah di dunia dan dalam menghadapi kuasa-kuasa destruktif dari si jahat. Hanya kuasa Roh Kudus saja yang dapat mengalahkan kuasa-kuasa kegelapan.

Allah lah yang melakukan segala-galanya. Bila kita menyerahkan diri kita tanpa syarat, Ia akan memakai kita sebagai alat-Nya untuk melaksanakan karya-Nya. Dari sini dapat disimpulkan sebagai berikut:

Roh Kudus termasuk struktur hakiki Gereja. Rahmat Pentakosta yang dialami dalam Pembaruan Karismatik harus mengalir ke dalam seluruh Tubuh Gereja, serta menyegarkan setiap fungsi dan struktur Gereja.

Pembaruan Karismatik harus berintegrasi ke dalam Gereja tanpa kehilangan vitalitasnya, tanpa “dijinakkan,” dan tanpa kehilangan dayanya yang besar, khususnya tanpa kehilangan karunia-karunia Roh Kudus.

Kita harus berusaha, supaya pencurahan Roh Kudus mengalir ke dalam seluruh tubuh Gereja dan strukturnya, ke dalam seluruh jajaran hirarki dalam Gereja. Pada saat ini yang sesungguhnya sangat membutuhkan Roh Kudus justeru adalah para pemimpin Gereja sendiri.

ROH KUDUS MEMPERBAHARUI GEREJA
Pencurahan Roh Kudus itu tidak dimaksudkan hanya untuk persekutuan doa saja, atau untuk mengembangkan persekutuan doa saja, melainkan mempunyai sasaran dan jangkauan yang jauh lebih luas: Pembaruan seluruh Gereja dan Evangelisasi Baru bangsa-bangsa. Ia dimaksudkan untuk mengalirkan darah segar kepada Gereja yang sedang mengalami anemia itu, “untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan bagi pembangunan tubuh Kristus” (Ef 4:12), bahkan lebih dari itu yakni, untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa dengan penuh keyakinan dan kuasa. Panggilan untuk Pembaruan ini memang unik dalam sejarah: Pembaruan tidak hanya untuk kelompok tertentu seperti pada zaman Santo Fransiskus Asisi, melainkan untuk seluruh umat Allah, untuk seluruh Gereja. Karenanya, Pembaruan itu harus selalu tinggal di jantung Gereja.

Pembaruan ini juga menuntut adanya suatu paradigma baru dalam karya pastoral kita. Karya pastoral yang tradisional sesungguhnya sudah tidak memadai lagi, perlu ditemukan suatu pola baru dalam karya pastoral kita. Pola baru itu mengandaikan unsur-unsur pokok berikut:

Pengalaman Roh Kudus dan kuasa-Nya, sebab tanpa pengalaman akan kuasa Roh Kudus ini kita tidak akan mampu melakukan tugas kita. Lagipula tanpa pengalaman Roh Kudus itu kita kehilangan suatu unsur pokok yang memberikan dinamisme besar dalam hidup dan karya kita. Hidup kita sendiri harus diperbaharui lebih dahulu sebelum kita dapat membawakan Pembaruan kepada orang lain.

Dalam paroki-paroki dan stasi-stasi tidak hanya ada institusi, tetapi juga persaudaraan dan komunitas-komunitas dasar dengan bentuk yang efektif. Pelayanan kepada umat tidak lagi akan ditanggung oleh para pastornya saja, melainkan akan dilaksanakan oleh banyak anggota umat dan bahkan oleh seluruh umat yang tergabung dalam komunitas-komunitas itu.

Komunitas yang besar akan terdiri dari banyak komunitas-komunitas kecil.
Dewasa ini, rahmat Roh Kudus sedang dicurahkan secara berlimpah-limpah ke dalam Gereja. Kesadaran akan apa yang sedang dikerjakan Allah saat ini, menyadarkan kita, bahwa kita sedang menghadapi suatu masa rahmat baru dalam Gereja. Di tengah segala krisis yang ada, di tengah segala kegelapan dosa yang merajalela, di tengah kebutaan yang mengerikan, di tengah merajalelanya kuasa-kuasa kegelapan, kita harus memiliki keyakinan iman yang mendalam, bahwa Allah lebih besar dari segalanya itu dan Dia akan menyelesaikan karya-Nya dengan memakai kita-kita ini sebagai alat-alat-Nya. Seperti yang telah dicetuskan Paus Yohanes Paulus II pada hari Pentakosta 1998 di Roma di hadapan wakil-wakil komunitas awam, yang kebanyakan berasal dari pembaruan karismatik: “Sekarang ini Gereja sedang memasuki suatu musim semi baru, tanda-tandanya sudah kelihatan. Saya bahkan berani berkata, bahwa tidak lama lagi musim panen raya akan datang bagi Gereja.” Tetapi pertanyaannya ialah: “Siapkah kita menghadapi panen raya itu? Mampukah kita menghadapinya?” Inilah pertanyaan yang menantang kita.

SUATU TANTANGAN
Menghadapi dan mengantisipasi panen raya itu, kita berhadapan dengan suatu tantangan:
Apakah kita yakin, bahwa diperlukan suatu pembaruan pribadi? Yakin akan perlunya suatu Pembaruan dalam hidup pribadi, dalam hidup Gereja. Mengubah suatu cara hidup yang terlalu nyaman, terlalu duniawi, suatu cara hidup yang tidak berpusat pada Allah, tetapi pada diri sendiri. Mengubah suatu cara hidup yang lebih dikuasai oleh nilai-nilai duniawi daripada nilai-nilai Injil.

Apakah dalam segala aktivitas dan karya kita, kita sungguh-sungguh bersandar pada Allah dan kuasa Roh Kudus, dan bukan pada kemampuan, kekuatan atau kepandaian sendiri?

Apakah dalam segala sesuatu yang kita kerjakan, kita melaksanakan rencana sendiri, ataukah rencana Allah? Apakah sebelum memulai sesuatu yang penting kita sempat bertanya: Apakah yang menjadi rencana-Mu, Tuhan? Apakah itu sesuai dengan rencana-Mu, Tuhan? Ataukah sebaliknya kita sama sekali tidak berpikir tentang hal itu? Apakah kita berusaha mengadakan suatu discernment untuk mengenali kehendak Allah, atau tidak?

Dewasa ini masih banyak sekali orang yang bersikap: Do it yourself: kerjakan itu sendiri. Mereka bersikap seolah-olah: asal saja kita berusaha, segala sesuatu dapat diselesaikan, lupa akan apa yang disabdakan Tuhan: “Tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5) atau apa yang dikatakan Santo Paulus: “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp 2:13). Karena itu kita sungguh-sungguh membutuhkan Roh Kudus, sebab :

Tanpa Roh Kudus, diosis atau paroki hanyalah organisasi belaka dengan motivasi dan tujuan manusiawi, dengan segala kepicikan dan kerapuhannya. Sebaliknya, dengan Roh Kudus diosis atau paroki adalah Tubuh Kristus, saudara-saudari yang dipersatukan dalam Kristus, yang melayani dan memberikan kesaksian dalam kuasa Roh Kudus.

Tanpa Roh Kudus, katolisisme hanyalah salah satu agama saja, mungkin lebih baik daripada yang lain, tetapi tidak lebih daripada itu. Dengan Roh Kudus katolisisme adalah wahyu Allah yang sempurna tentang dirinya sendiri kepada manusia: Bapa, Allah yang Mahakuasa dan Maharahim; Yesus, Putera-Nya, Tuhan dan Penyelamat kita; Roh Kudus pemberi segala hidup dan wahyu itu menjadi benar-benar ‘Kabar Gembira’.

Tanpa Roh Kudus evangelisasi tidak perlu, karena agama-agama lain juga baik dan Allah dipandang sebagai bersikap acuh tak acuh terhadap dosa dan kejahatan. Karenanya pembangunan sosio-ekonomis lebih perlu daripada evangelisasi. Dengan Roh Kudus evangelisasi adalah perintah Allah, kerinduan terdalam hati Allah bagi umat-Nya dan juga berkat terbesar bagi mereka.

Tanpa Roh Kudus evangelisasi praktis tidak mungkin dan mustahil, nyata dari pengalaman. Dengan Roh Kudus evangelisasi benar-benar mungkin dan nyata: “Rahmat Allah yang menghancurkan segala rintangan yang masuk dalam hati manusia lewat pengampunan, penyembuhan, karunia-karunia iman, harapan, dan kasih.”

Ditulis oleh Rm. Yohanes Indrakusuma

Sumber: http://www.carmelia.net




oleh Hidup Baru pada 09 Juni 2011 jam 7:38

Kerikil Kecil

Kerikil kecil kadang tidak memiliki arti apa-apa dalam kehidupan kita.

Namun, jika kerikil kecil itu ada didalam sepatu kita dan kita mengenakan sepatu itu maka akan ada rasa sakit disana, bahkan kalau dibiarkan rasa sakit itu akan menjadi-jadi dan membuat tidak nyaman seluruh hidup kita. Maka, kita harus membuang kerikil kecil itu dari dalam sepatu kita agar kita bisa nyaman dalam perjalanan hidup kita.

Demikian juga rasa amarah, kekesalan dan dendam dalam diri kita. Pertama-tama tidak akan begitu berpengaruh namun jika dibiarkan akan sangat membuat tidak nyaman bahkan kita akan sakit karenanya.

Buang dendam, amarah dan kekesalan dalam hidup kita dan jangan biarkan kerikil kecil itu dalam diri kita.

Hidup tergantung pada Anda dan hanya anda yang bisa membuat nyaman diri Anda.

Semoga kita selalu berani membuka sepatu dan membuang kerikil hidup kita yang seringkali ada disana.



Petrusp

oleh Hidup Baru pada 11 Juni 2011 jam 19:22

Lepaskan Tambatan Tali itu

Suatu saat aku sedang menikmati senja dalam perahu keselamatanku yang sedang berlabuh. Kulihat Tuhan di ruang pengemudi, Ia menatapku dan berkata, “Lepaskanlah tambatan tali itu, dan biarlah Aku membawa engkau ke seberang. Sebab bukan rancangan-Ku engkau tertambat disini…”

Gelisah dan kuatir aku menjawab, “Tuhan, bukankah lebih baik aku tetap disini? Aku tdk akan melihat taufan dan badai dan aku dapat kembali ke darat kapan pun aku mau.”

Dengan lembut, Ia memegangku, menatap mataku dan berkata, “Jika engkau tidak mengalami taufan dan badai, engkau tidak akan pernah melihat, bahwa Aku berkuasa atas semua itu.”

Dalam pergumulanku, aku memandangi tali yang mengikat perahu. Di tali itu, ku lihat ada rasa kuatir akan keuangan, pekerjaan, kehidupan dan Masa Depan.

Dalam hatiku aku bertanya, “Tahukah Ia apa yang aku inginkan?? Mengertikah Ia apa yang aku rindukan??? “

Tuhan memelukku dan berkata lembut, “Memang tidak semuanya akan sesuai dengan apa yang kau inginkan, bahkan mungkin kebalikannya yang akan engkau dapatkan. Tapi, maukah kau percaya, bahwa rancangan-Ku adalah rancangan damai sejahtera dan masa depanmu adalah masa depan yang penuh harapan?” Ia memeluk dan menangis bersamaku.

Lalu dengan berat aku melepas tali perahuku…,

Kulepaskan semua rasa kuatir itu dari hatiku…,

Ku taruh hak atas masa depanku ditangan-Nya,

Aku tidak tau bagaimana nanti masa depanku,

tapi aku percaya Ia sudah ada disana…



Sambil menangis aku menatap-Nya dan berkata :

“Jadilah nahkoda dalam hidupku & marilah kita berlayar bersama.”

sumber: unknown

oleh Hidup Baru pada 13 Juni 2011 jam 0:15

Terjadilah kehendak-Mu, bukan kehendakku

“Kesulitan terbesar bagi keluarga masa kini bukan finansial, tetapi menemukan waktu bersama dengan anak-anak. Anak-anak akhirnya tumbuh sendirian tanpa penyertaan orang tua.“

Kita seringkali sudah mengajukan pertanyaan-pertanyaan ketika baru membuka mata di pagi hari, “Mana aktivitas yang hendaknya kudahulukan, siapa yang akan saya jumpai hari ini, ke restoran mana saya akan makan bersama dengan rekan-rekan saya?“

Ada bahaya bahwa kesibukan dengan aktivitas atau orang akhirnya menguasai diri kita. Keletihan, kelesuan, dan depresi adalah tanda-tanda negatif dari aktivitas yang telah mengontrol dan merusak diri kita. Dan dalam situasi ini, kita harus berani menyerahkan agenda kehidupan kita kepada penyelenggaraan Allah. Kita semakin mendaraskan refrain kitab suci, “Terjadilah kehendak-Mu, bukan kehendakku.“

Kita menolak untuk menjadi korban waktu jam, melainkan hidup menurut waktu Allah.

Hari indah buatmu semua. GBU all

Rm YusTL pr

oleh Hidup Baru pada 13 Juni 2011 jam 20:13

Doa : Perjalanan ke Dalam Batin

"Apabila kamu berdoa, masuklah ke kamar, tutuplah pintu, dan berdoalah kepada Bapa-MU yang tidak kelihatan"(Mat 6:6). Anda mungkin memahami secara berbeda kata-kata Yesus ini, namun bagi saya, kata-kata Tuhan ini mengingatkan saya, bahwa ada saat-saat dalam kehidupan ini, dalam kesibukan harian kita, kita perlu menyiapkan waktu khusus untuk berdialog, berbicara dengan DIA, dan siap untuk melepaskan diri dari dari ikatan waktu, aktivitas dan kesibukan harian kita, dan masuk dalam kesendirian bersama Yesus. Dalam doa kita bergerak menuju tempat yang lebih dalam menuju pusat dan jantung keberadaan kita di mana kita menemukan PRIBADI yang sedang menunggu kita, seorang PRIBADI yang menjadi sumber keberadaan dan pemberi makna kehidupan kita yakni Yesus Kristus. Di sana kita akan berlabuh, membenamkan dan menyatukan diri kita bersama-NYA.

Di perjalanan ini kita akan merasakan bahwa DIA hadir merangkul kita dan mengairi keberadaan kita dengan cinta-NYA, membaharui diri kita dengan kekuatan Roh-NYA. Kita tidak pernah merasa sendiri karena IA selalu hadir bersama dengan kita, dan menempatkan hati kita pada-NYA dan mengadakan perjalanan ke dalam diri bersama-NYA. Ini adalah suatu perjalanan menuju pada pikiran, perasaan dan hati Kristus, suatu perjalanan menuju kepada kebenaran, yang bebas dari pertimbangan-pertimbangan untung rugi. Di dalam perjalanan batin ini kita terus menerus diingatkan bahwa menjadi murid-NYA, kita harus mengenakan pikiran dan hati-NYA, mengasihi seperti DIA mengashi kita.

Namun, perjalanan ke dalam ini haruslah diikuti dengan perjalanan keluar diri. Artinya, perjalanan ke dalam diri harus membawa kita keluar, kembali kepada kehidupan nyata dunia ini, kembali membawa kasih dan damai dari Allah kepada sesama, mengasihi sesama seperti DIA mengasihi kita. Di perjalanan ini, kita mungkin banyak akan menghadapi persoalan-persoalan yang menghadang kita setiap hari, setelah kita bertemu dengan Allah, – tapi dalam situasi demikian, kita harus terus bergerak maju dengan suatu visi dan tujuan yang baru, serta dengan suatu komitmen yang besar untuk membangun dunia yang lebih baik, dan dyakinla bahwa Allah hadir selalu hadir menyertai, mencintiai dan memberkati kita.



Salam dan doaku serta.



Rm YusTL pr
oleh Hidup Baru pada 14 Juni 2011 jam 19:10

Film Kehidupan

Rasanya jarang orang yang tidak suka menonton film. Mungkin genre film yang digemari bisa berbeda, tapi tiap orang cenderung suka bahkan berlama-lama menghabiskan waktu di depan televisi/bioskop untuk menonton film.

Mulai dari film detektif, horor, drama, komedi, dan selanjutnya. Idola tiap orang pun macam-macam. Dulu saat di Asia film Hongkong berjaya, tentunya banyak orang kenal Jacky Chen. Sekarang, saat Korean Drama menjadi buah bibir di mana-mana, para bintang filmnya pun punya penggemar di seluruh dunia.

Film yang bagaimana yang kita sukai? Mungkin film-film yang menyedihkan, menegangkan, atau banyak konfliknya sehingga menjadikan film-film itu seru untuk dilihat. Semakin banyak masalah, konflik, perseteruan, kita makin suka karena menganggap itu adalah film yang seru.

Jika hidup kita diibaratkan adalah sebuah film yang memuat kehidupan kita dari lahir sampai akhir hayat nanti, akan jadi film seperti apakah hidup kita itu? Mengapa kalau ada sedikit masalah, persoalan, hal-hal yang kurang menyenangkan, kita begitu mudah patah semangat dan putus asa? Bukankah kita mengerti pula konsep sebuah film yang seru, yang apabila diterapkan dalam kehidupan kita berarti kita sudah harus bersiap untuk menerima permasalahan dan pernak-pernik kehidupan yang mungkin sama sekali berbeda dengan harapan kita?

Sehingga suatu saat nanti, ketika film kehidupan kita diputar…Akan jadi hal yang membanggakan untuk ditonton dunia. Karena film kehidupan kita itu ternyata memang cukup seru dengan segala konfliknya. Tetapi puji Tuhan, bahwa semua itu bisa dilewati dengan campur tangan-Nya, dalam pelukan kasih-Nya, bersama Dia senantiasa.

So, haruskah kita takut, cemas, dan kuatir? Tentu kita semua sudah tahu jawabannya bukan? Karena kita punya Tuhan, Sang Sutradara film kehidupan kita yang tahu semua adegan dan episode di dalamnya.

Tugas kita hanyalah memainkan peran yang sudah diberikan-Nya dengan sebaik-baiknya. Camera…” Action!” :)



oleh Hidup Baru pada 15 Juni 2011 jam 21:45

Hari Raya Tritunggal Mahakudus

Seorang nenek sementara mengasuh cucu kecilnya yang tak henti-hentinya bertanya, "Nek, mengapa daun-daun berjatuhan?" Sang nenek menjawab, "Untuk diganti dengan daun yang lebih muda." Cucunya bertanya, "Dari mana daun itu muncul?" Nenek dengan sabar menjawab, "Ibu bumi menyediakan" Cucu tadi melihat ke langit dan bertanya lagi, "Nek, lihat! Langit biru seperti danau, awan-awan seperti perahu-perahu. Mereka menuju kemana Nek?" Nenek menjawab dengan sabar, "Oh mungkin ada pertemuan para awan." Sang cucu melihat ke arah nenek dan bertanya lagi, "Mengapa awan-awan perlu pertemuan?" Sang nenek memeluk cucunya dan berkata, "Rupanya bumi sudah membutuhkan hujan." Sang anak tadi berkata, "Tuhan hebat ya nek, Tuhan memikirkan segalanya!"

Para saudara, berhadapan dengan misteri Tritunggal Mahakudus, kita seperti anak kecil itu. Bertanya dan tidak mendapatkan penjelasan yang memadai. Mungkin cara yang paling baik adalah dengan mendengarkan pengalaman. Kadang kita begitu terpesona dengan keindahan alam. Kita pun bertanya, "Siapa yang menyelenggarakan semua ini?" Itulah pengalaman akan Allah Bapa. Allah yang menciptakan dan menyelenggarakan kehidupan. Kita juga bersentuhan dengan Pribadi yang bernama Yesus. Ia yang lahir sebagai manusia, mengajar, menderita, wafat dan bangkit. Allah yang membumi itu kita sebut sebagai Allah Putra. Kadangkala pula, kita mengalami kesulitan. Kita seperti merasakan ada yang menuntun langkah kita dengan inspirasiNya yang kudus. Itulah Allah Roh Kudus.

Para saudara, misteri dalam bahasa teologi artinya rencana keputusan Allah untuk menyelamatkan manusia. Allah memikirkan dan melakukan segala sesuatu agar kita bisa selamat. Ia menciptakan, tinggal bersama kita dan memberi inspirasi. Kita perlu membuka hati agar Allah Tritunggal Mahakudus meraja dalam diri kita. Kita tidak akan pernah mengerti tapi mengalaminya. Amin

Disalin dari Renungan Harian dan Pendalaman Iman "Percikan Hati"

NB:
Untuk berlangganan buku renungan "Percikan Hati" ini bisa melalui:
sms ke 0811-433290 (di luar Jakarta) dan 0816-1964317 (Jakarta) atau
telp di 0431-824451 (di luar Jakarta) dan 021-92709857 (Ibu Santi - Jakarta)



oleh Hidup Baru pada 19 Juni 2011 jam 2:26