Saat Hidup tidak lagi bersahabat dengan kita... Tetap lah "pegang erat Tangan Tuhan" Jangan pernah kau berpaling dari NYA, sebab TUHAN lah sumber pertolongan kita kemarin, hari ini , besok dan untuk selama-lama nya...

Minggu, 25 September 2011

RESEP PIZZA MINI

Suasana hari libur bisa diisi dengan kegiatan positif bersama keluarga, salah satunya adalah ajak putra putri anda untuk membuat pizza mini. Cara membuatnya cukup mudah dan tidak memakan waktu lama.
Bahan kulit :
350 gram terigu cap Cakra
200 ml Air
1 bungkus ragi instan
1/4 sendok garam

Bahan isi :
- Saus Tomat
- Toping sesuai selera (bisa daging giling yang ditumis dengan bawang bombay, bawang putih, tomat, brokoli, jamur, saus tomat, atau daging asap, daging ayam giling, sosis, messes, coklat, keju, buah nenas, mentimun, kentang kukus, wortel dsb)
- Keju Mozarella
- oregano (jika mau)

Cara membuat :
campur semua bahan kulit, uleni sampai kalis.
Biarkan 15 menit sambil ditutup serbet basah.
Tekan adonan kulit dengan kepalan tangan hingga mengempis, bagi 8 atau sesuai selera, bulatkan dan pipihkan membentuk lingkaran, tepinya agak ditinggikan
Oles saus tomat.
Taburi topping.
Taburi keju mozarela yang dioles tipis.
Taburi bubuk oregano secukupnya (jika mau)
Bakar sampai kekuningan dan matang.
Angkat dan sajikan..

*Selamat mencoba & have a nice Sunday...!!
(KF-v/http://www.dunia-ibu.org/)

"MENDENGARKAN TUHAN BERCERITA" - 4

Renungan Harian Bulan Kitab Suci Nasional 2011 : "MENDENGARKAN TUHAN BERCERITA"
Hari 26 : Senin, 26 September 2011 (Mat 22:1-14/Luk 14:15-24)

Sekarang ini, orang begitu mudah mengadakan aneka pesta, salah satunya perkawinan. Pesta tersebut tidak lagi dilihat sebagai ucapan syukur atas karya agung Allah, tetapi lebih pada harga diri atau gengsi keluarga. Banyak keluarga mengadakan pesta bukan berdasarkan maksudnya tetapi lebih pada penampilan harga diri atau gengsi keluarga, sehingga tidak menutup kemungkinan berkembang persaingan di antara mereka. Persaingan ini meliputi orang yang diundang dan jumlahnya, tempat berlangsungnya pesta, macam makanan yang disajikan, acara pestanya, dan sebagainya. Bila pesta tersebut dirayakan dengan Ekaristi, Uskup atau imam siapa yang memimpinnya dan berapa jumlah Uskup atau imam lain yang ikut tampil. Semua itu menjadi tanda kehebatan harga diri atau gengsi keluarga yang mengadakan pesta. Bahkan bisa terjadi, hartanya habis dan hutangnya banyak setelah pesta usai.

Hari ini, Allah berkenan untuk memanggil sebanyak mungkin orang masuk ke dalam Kerajaan Sorga, yang diumpamakan seperti raja mengadakan perjamuan kawin. Dalam perjamuan ini, raja mengundang orang-orang untuk datang dan telah disediakan hidangan yang berlimpah dan enak (ay 4), tetapi mereka tidak mau hadir dengan aneka alasan (ay 5-6). Kemudian, raja murka (ay 7) dan mengutus hamba-hambanya untuk mengundang orang-orang lain datang ke perjamuan kawin (ay 9-10). Ketika raja bertemu dengan tamu-tamu itu, ternyata ada seorang tamu yang tidak berpakaian pesta dan dilempar ke dalam kegelapan yang paling gelap (ay 11-13).

Sebanyak mungkin orang dipanggil oleh Allah dan diberi kesempatan untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga, agar mengalami keselamatan dan perjumpaan dengan-Nya. Namun, yang terjadi adalah banyak orang menolaknya, ada yang tidak boleh masuk karena ketidakpantasannya, dan memang sedikit yang dipilih-Nya "Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih" (ay 14).

Sebagai murid Yesus, kita boleh berefleksi: apakah kita menjadi orang-orang yang diundang ke perjamuan kawin tetapi menolaknya dengan berbagai alasan? Apakah kita menjadi orang yang diusir karena ketidakpantasan dan dilemparkan ke dalam kegelapan yang paling gelap? Jawaban tersebut sangat menentukan keberadaan kita di hadirat Allah. Semoga kita menjadi orang-orang yang dipilih dan dianggap pantas datang di hadirat-Nya.

Sumber : Renungan Harian BKSN 2011 - Lembaga Biblika Indonesia

"MENDENGARKAN TUHAN BERCERITA" - 2

(Mat 25:14-30/Luk 19:12-27)

Dalam kehidupan bersama, di mana pun dan kapan pun, orang harus berjuang agar dapat dipercaya oleh orang lain. Orang mempertaruhkan diri dan hidupnya, dapat dipercaya atau tidak, di hadapan orang lain. Bila dapat dipercaya maka orang tersebut akan dipercaya terus, sebaliknya bila tidak dapat dipercaya lagi maka orang tersebut selamanya tidak akan pernah dipercaya. Artinya, kepercayaan itu mahal harganya. Orang tidak dapat bermain-main dengan kepercayaan. Orang tidak dapat menganggap remeh kepercayaan itu. Kepercayaan tersebut sangat menentukan keberadaan dan jati diri seseorang di hadapan orang lain, termasuk di hadirat Allah.

Perikop hari ini masih berbicara mengenai akhir zaman, yang digambarkan seperti seorang tuan yang mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya. Hamba pertama menerima lima talenta, yang kedua menerima dua talenta, dan yang ketiga menerima satu talenta, sesuai dengan kesanggupannya (ay 15). Ketika pulang, tuan mengadakan pertanggungjawaban bersama hamba-hambanya. Hamba yang pertama menyerahkan sepuluh talenta, termasuk labanya, dan dipuji oleh tuannya (ay 20-21). Hamba yang kedua menyerahkan empat talenta, termasuk labanya, dan dipuji seperti hamba yang pertama (ay 22-23). Hamba yang ketiga juga mempertanggungjawabkannya, meski sambil marah, dengan menyerahkan satu talenta saja, dan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap (ay 24-30).

Hamba pertama dan kedua merupakan gambaran hamba yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya sebab mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dan kreatif, sehingga membuahkan hasil seperti yang diharapkan oleh tuannya. Apa yang dilakukan dan bagaimana caranya tidak terlalu pentjng sebab yang terpenting adalah hamba mampu mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Hasilnya adalah pujian dan pemberian kepercayaan yang lebih besar "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara lebih besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu" (ay 21 dan 23). Hamba ketiga merupakan gambaran orang yang tidak dapat dipercaya sebab tidak bertanggung jawab atas tugas yang diberikan kepadanya, sehingga menerima hukuman.

Tanggung jawab dan kreativitas hamba pertama dan kedua menjadi inspirasi bagi kita, sebagai murid Yesus, untuk menjadi pribadi yang dapat dipercaya oleh orang lain dan Allah sendiri. Ketika kita dapat melakukan tugas dengan baik, setia, benar, dan bertanggung jawab, yakinlah bahwa orang lain akan menaruh kepercayaan yang sangat besar kepada kita. Kita dipandang sebagai pribadi yang berkualitas sebab mampu dipercaya. Semoga kita tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberikan oleh orang lain dan Allah.

Sumber : Renungan Harian BKSN 2011 - Lembaga Biblika Indonesia

"MENDENGARKAN TUHAN BERCERITA" - 3

Renungan Harian Bulan Kitab Suci Nasional 2011 : "MENDENGARKAN TUHAN BERCERITA"
Hari 21 : Rabu, 21 September 2011 (Luk 18:1-8)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang harus memberi upeti kepada
pejabat setempat agar proyeknya dapat berjalan lancar, termasuk urusan
administratifnya. Tidak hanya pejabat, semua stafnya pun minta jatah.
Situasi inilah yang menjadikan proses perijinan menjadi berbelit-belit
sebab semua orang menginginkan hal yang sama. Sepertinya sudah menjadi
kesepakatan tak tertulis di antara mereka. Jika hal ini tidak
dilakukan, bisa dipastikan bahwa semua urusan menjadi terhambat,
bahkan proyek bisa gagal karena ijin tidak keluar. Pejabat dan
orang-orang yang ada di sekitarnya sungguh menjadi penguasa, yang
menentukan nasib proyek tersebut dapat berjalan atau tidak. Mereka
tidak lagi melihat kegunaan proyek itu, yang ada adalah bisa bayar
atau tidak untuk memperoleh ijin. Itulah sebabnya, orang harus
merengek-rengek kepada pejabat dan stafnya agar proyeknya dapat
berjalan.

Hari ini Yesus menyampaikan perumpamaan yang berkaitan dengan doa.
Berdoa yang dilakukan dengan tidak jemu-jemunya, seperti seorang janda
yang selalu datang kepada hakim agar haknya dibela (ay 3). Hakim itu
awalnya menolak, tetapi lama-kelamaan mau membelanya sebab dia tidak
mau direpotkan oleh kehadiran janda ini (ay 4-5). Sikap hakim yang mau
mengabulkan permintaan janda nampaknya menjadi sikap Allah, yang tidak
mengulur-ulur waktu dan senantiasa berkenan untuk mengabulkan doa
orang yang datang dan berseru-seru kepada-Nya "Tidakkah Allah akan
membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru
kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong
mereka?" (ay 7). Apalagi, doa yang dihaturkan kepada-Nya itu
didasarkan pada iman yang benar dan mendalam.

Berdasarkan perumpamaan ini, kita diharapkan meninggalkan pemahaman
bahwa Allah harus mendengarkan dan mengabulkan segala yang kita minta
saat berdoa. Bila tidak dikabulkan, kita marah dan kecewa, tidak lagi
berdoa kepada-Nya. Sebagai murid Yesus, kita harus membangun sikap doa
yang benar dan menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang
beriman Katolik. Ketika berdoa, janganlah memaksakan keinginan kita di
hadirat Allah, tetapi berdoalah berdasarkan iman yang mendalam dan
dilakukan terus-menerus, tanpa henti dan lelah, sebab kita meyakini
bahwa Allah pasti memberi dan mengabulkannya. Segalanya akan menjadi
indah pada waktunya.

Sumber : Renungan Harian BKSN 2011 - Lembaga Biblika Indonesia

1

Mencari Tuhan atau Mencari Makan

Ini adalah uneg2 ke jengkelan saya terhadap para anggota lingkungan st.Bernadeth, Gisikdrono,Bongsari Semarang....
Pada bulan Agustus  2011 lalu ketua lingkngan saya bp.Fx.Nurhadi dan beberapa pengurus lain, mengajukan permintaan pada suami saya untuk "meminjam" ruang tamu di rumah kami setiap hari kamis selama bulan September untuk kegiatan Pendalaman Kitab Suci (BKSM), dan suami saya pun mengiyakan nya karena memang sudah sejak jaman alm.bp.mertua hidup, rumah kami sudah biasa di pakai untuk kegiatan2 gereja.
Dan datang lah bulan September....

Di Kamis minggu I : pendalaman Kitab Suci di batalkan karena ada acara Doa Tujuh Hari meninggal nya seorang anggota lingkungan kami. Umat di linkungan st.Bernadeth yang hadir sekitar 35 orang - an.
Di Kamis minggu II : Pendalaman Kitab Suci dengan tema Perumpamaan Yesus tentang Orang Samaria yang baik hati.Peserta yang datang 17 orang termasuk saya dan suami saya.
Di Kamis minggu III : Pendalaman Kitab Suci dengan tema Perumpaman Yesus tentang Anak yang hilang. Peserta yang datang 22 orang termasuk saya dan suami saya.
Di Kamis minggu IV : Pendalaman Kitab Suci di batalkan karena ada acara Doa Mendhak I (peringatan satu tahun meninggal) di rumah seorang anggota lingkungan kami. Peserta yang akan hadir saya RAMALKAN pasti lebih dari 30 orang.....

Saya heran sekaligus takjub dengan warga di lingkungan st,Berndeth ini, kok tidak mau datang menghadiri acara Pendalaman Kitab Suci yang di selenggarakan oleh gereja setiap tahun sekali, tapi kalo ada acara do a Mendhak, doa Syukuran kok yang datang selalu over place....
Dan ketika saya tanya kan pada ibu sekretaris lingkungan, menurut info beliau : mereka itu takut mbak kalo di kasih pertanyaan oleh pak Yudis (guru katekumen kami yg berperan sbg naratora kami).
Jawaban yang aneh menurut kami.... Lha ini kan forum tidak resmi dan tertutup serta di lingkup yang sangat kecil sekali, kenapa takut....?! apa sih yang sebenarnya di takutkan....toh kalo tidak bisa menjawab tidak akan mendapat hukuman apa-apa tho...
Dan saya pun saking kesel nya nyolot begini pada ibu sekretaris : sebenarnya mereka itu mencari Tuhan atau mencari Makan ya,bu...
padahal di tempat kami, kami tidak hanya menyuguhkan teh manis tp jg cemilan aneka macam snack jg lho... memang sih masih kalah kalo di banding kan dengan acara doa mendhak dan  doa syukuran yang selalu dapat nasi dos dan snack dos.....

Padahal saat saya tinggal di Brumbungan (lingkungan Loyola), peserta nya banyak sekali, tidak peduli itu acara syukuran atau acara pendalaman kitab suci, umat yang datang tetap banyak,padahal suguhan nya cuman air mineral gelas.....

Mungkin ini juga PR untuk para Pastor dan saudara sesama umat jg, agar pada saat kotbah  atau bertemu dengan teman , untuk mengingatkan umat/teman kita  untuk turut berpatisipasi dan aktif dalam kegiatan doa dan pendalaman kitab suci di lingkungan masing2 tanpa embel2 makanan....karena tujuan awal kita adalah melayani Tuhan, jd selagi kta masih di beri kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati indah nya hidup, harus mau dengan tekun dan giat mencari dan melayani Tuhan dengan segenap hati tanpa ada pamrih dan imbalan apa pun juga...


Kesadaran untuk dekat dengan Tuhan tidak bisa di paksa kan oleh orang lain, melainkan harus datang dari diri sendiri untuk melakukan nya. Lebih baik datang terlambat daripada tidak sama sekali....